Di dataran tinggi Jawa Tengah, tepatnya di Temanggung dan Wonosobo, semangat pertanian organik oleh generasi muda berkembang pesat. Wilayah yang dikenal dengan kesuburan tanah vulkanik dan iklim sejuk ini kini menjadi medan perjuangan agraria masa depan di mana anak-anak muda tidak hanya menanam, tetapi juga membentuk narasi baru pertanian modern dan berkelanjutan. Para pemuda di sana mulai memandang pertanian bukan sebagai profesi tua atau pilihan terakhir, melainkan sebagai jalan strategis untuk membangun ketahanan pangan lokal dan memperkaya ekonomi desa. Mereka memilih bertani organik, memproduksi kopi lokal secara sadar lingkungan, dan mengembangkan hortikultura organik dengan pendekatan edukatif dan ekowisata.
Dalam praktik pertanian organik, generasi muda mempelajari teknik-teknik seperti pembuatan kompos, penggunaan pupuk organik hasil fermentasi, sistem tumpangsari, hingga pengendalian hama alami. Pengetahuan ini diperoleh dari pelatihan komunitas tani, LSM, universitas, serta platform digital seperti YouTube dan media sosial. Filosofi mereka, bertani harus bermakna bagi manusia dan lingkungan, bukan sekadar soal produktivitas. Pada sektor kopi, perubahan signifikan berlangsung di lereng Gunung Sumbing. Selama bertahun-tahun, hasil panen kopi arabika dan robusta dari Temanggung hanya dijual sebagai komoditas kering melalui tengkulak dengan harga rendah. Namun kini, generasi muda mulai menguasai seluruh proses hulu-hilir, pengelolaan lahan secara organik, fermentasi natural atau honey process, pengeringan, roasting, hingga pengemasan dengan merek lokal. Strategi pemasaran digital menggunakan Instagram dan WhatsApp telah berhasil menembus pasar internasional seperti Australia, Finlandia, Singapura, Malaysia, serta China.
Pada Januari 2024, Media Center Temanggung mencatat bahwa kopi organik produksi lokal telah merambah pasar Australia dan Finlandia, dengan menggunakan platform daring sepenuhnya melalui media sosial dan kontak langsung WA atau Instagram. Salah satu petani muda sukses dengan angka penjualan hingga satu kuintal sangrai per bulannya, dengan harga Arabika sekitar Rp 700.000/kg dan Robusta Rp 400.000/kg. Dukungan dari pemerintah provinsi semakin memperkuat momentum ini. Program “Zilenial Jateng”, yang digagas Gubernur Ahmad Luthfi, menyediakan pelatihan bagi petani muda, akses informasi pasar, dan fasilitasi alat pertanian modern. Salah satu yang diangkat dalam berita adalah Shofyan Adi Cahyono (30), pendiri Sayur Organik Merbabu (SOM) di Kecamatan Getasan. Sejak 2014, ia mengembangkan sayuran organik menggunakan greenhouse, irigasi tetes, hingga teknologi plasma ozon sebagai metode pascapanen. Produk sayur seperti selada, wortel, kol, kabocha, dan tomat cherry telah dipasarkan di wilayah Jabodetabek, Kalimantan, dan Jawa Tengah dengan harga mencapai Rp 60.000/kg.
Tidak hanya sayuran, pertanian padi organik juga mulai digarap serius oleh petani muda seperti Aspuri dari Grabag, Magelang. Ia tidak hanya menerapkan pupuk alami dan filtrasi enceng gondok untuk mengurangi residu kimia, tetapi juga berhasil menjual beras organik premium dengan harga Rp 20.000/kg lebih tinggi dibanding padi konvensional sekitar Rp 7.000/kg. Di Temanggung, para petani muda pun mengikuti pelatihan Integrated Farming Class (IFC) yang diadakan pada Desember 2024 oleh Lokadesa bekerja sama dengan Sekolah Tani Masyarakat (STM). Kegiatan ini membekali puluhan petani muda dengan pengetahuan tentang sistem pertanian terpadu termasuk integrasi hortikultura dan ternak domba untuk memaksimalkan produktivitas lahan sempit. Gerakan ini semakin mendapatkan sorotan nasional. Dalam Pekan Agro Digital dan Inovasi (PADI) 2025 di Soropadan, Temanggung, Kementerian Pertanian melepas ekspor komoditas hortikultura dan pertanian senilai Rp 1,335 miliar, termasuk 1 ton sayuran organik ke Singapura seharga Rp 120 juta dan 70 ton ubi madu serta gula semut ke Malaysia. Pelepasan ini menjadi bukti nyata bahwa produk pertanian petani muda kini menembus ekspor dan membuka nilai tambah ekonomi desa.
Digitalisasi memainkan peran besar dalam keberhasilan ini. Start-up desa, platform WhatsApp Business, TikTok, Instagram, hingga e-commerce lokal digunakan sebagai media edukasi dan promosi produk. Media sosial menjadi etalase naratif yakni menampilkan proses penanaman, panen, roasting kopi, hingga cerita petani muda. Strategi ini berhasil meningkatkan kesadaran publik terhadap produk organik lokal dan membangun hubungan langsung dengan konsumen. Tentu saja, tantangan tetap ada. Akses lahan yang terbatas, kebutuhan modal awal, proses sertifikasi organik, serta standar harga di pasar masih menjadi hambatan bagi banyak petani muda. Namun, sinergi dengan pemerintah daerah, LSM, serta koperasi lokal mulai membuka celah solusi. Pemerintah misalnya menyediakan pelatihan di Bapeltan Soropadan, subsidi alat mekanisasi, serta bantuan jaringan pemasaran digital bagi petani milenial.
Sumber:

