Kawasan hutan di Wonosobo selama ini dikenal sebagai salah satu penyangga ekosistem penting di Jawa Tengah, dengan lanskap hijau yang membentang dari kaki Gunung Sindoro, Sumbing hingga perbukitan di sekitarnya. Namun, fungsi hutan di wilayah ini tidak hanya terbatas pada peran ekologis sebagai penyimpan air, penyerap karbon, dan pelindung keanekaragaman hayati. Dalam beberapa tahun terakhir, pemanfaatan kawasan hutan di Wonosobo mulai diarahkan pada aspek edukasi ekologi yang melibatkan berbagai kalangan, mulai dari generasi muda, masyarakat desa sekitar hutan, hingga wisatawan yang datang untuk belajar tentang alam. Pemanfaatan ini menjadi langkah strategis untuk memastikan kelestarian hutan sekaligus memberikan manfaat sosial-ekonomi bagi warga setempat.
Salah satu bentuk nyata dari pemanfaatan kawasan hutan untuk edukasi ekologi di Wonosobo adalah program yang dilakukan Perhutani KPH Kedu Selatan bersama anggota Saka Wanabakti Pramuka. Dalam kegiatan ini, para peserta diajak untuk terjun langsung mengelola sumber daya hutan, mulai dari menanam bibit pohon, melakukan perawatan, hingga mempelajari teknik rehabilitasi lahan kritis. Kegiatan semacam ini tidak hanya memberi pengetahuan teknis tentang pengelolaan hutan, tetapi juga menanamkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab pada generasi muda. Dengan memahami proses regenerasi hutan, mereka diharapkan tumbuh sebagai individu yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Edukasi semacam ini penting, sebab perubahan perilaku dalam menjaga alam sering kali berawal dari kesadaran yang dibangun sejak dini.
Selain melalui kegiatan kepanduan, Wonosobo juga mengembangkan konsep agroforestry di beberapa kawasan hutan, seperti di RPH Sapuran. Sistem agroforestry ini memadukan penanaman pohon kehutanan, seperti pinus, dengan tanaman pengisi yang memiliki nilai ekonomi, misalnya tanaman salam atau kopi. Pendekatan ini memiliki dua keuntungan utama. Pertama, secara ekologis, sistem ini menjaga struktur tanah, mengurangi erosi, dan mempertahankan kelembaban lahan. Kedua, secara ekonomi, masyarakat memperoleh penghasilan tambahan dari hasil panen tanaman pengisi tanpa harus merusak tegakan pohon utama. Sosialisasi agroforestry yang dilakukan Perhutani kepada masyarakat bukan hanya bertujuan meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menjadi sarana edukasi ekologi yang mengajarkan bahwa kelestarian hutan dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan ekonomi warga.
Pendekatan edukasi ekologi di Wonosobo memiliki keunikan tersendiri karena bersandar pada kearifan lokal. Masyarakat setempat memiliki ikatan budaya yang kuat dengan hutan, yang tercermin dalam berbagai tradisi dan praktik pertanian. Misalnya, ada keyakinan bahwa hutan di sekitar sumber mata air harus dijaga dan tidak boleh dibuka untuk lahan pertanian intensif. Nilai-nilai ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga menjadi bagian dari pendidikan lingkungan yang tidak tertulis. Dengan menggabungkan pengetahuan modern, seperti teknik agroforestry dan rehabilitasi lahan, dengan kearifan lokal, Wonosobo berhasil menciptakan model edukasi ekologi yang relevan dengan kondisi sosial budaya masyarakatnya.
Selain melalui program yang melibatkan warga lokal, kawasan hutan di Wonosobo juga mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Wisatawan yang datang tidak hanya diajak menikmati pemandangan, tetapi juga diajak memahami fungsi ekologis hutan. Beberapa lokasi menyediakan jalur interpretasi hutan, di mana pengunjung dapat mempelajari jenis-jenis pohon, siklus air, hingga peran fauna dalam ekosistem. Konsep wisata edukasi ini memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Ketika wisatawan memahami bahwa kenyamanan yang mereka rasakan saat berada di hutan adalah hasil dari proses ekologi yang panjang dan rumit, mereka cenderung memiliki rasa hormat yang lebih besar terhadap alam.
Pemanfaatan hutan untuk edukasi ekologi di Wonosobo juga memiliki dampak positif terhadap hubungan antara masyarakat dan pengelola hutan. Sebelumnya, hubungan ini sering kali diwarnai konflik, terutama terkait akses dan pemanfaatan sumber daya hutan. Namun, melalui pendekatan edukatif, masyarakat mulai melihat hutan sebagai aset bersama yang harus dijaga, bukan sekadar sumber kayu atau lahan garapan. Kolaborasi yang terjalin antara Perhutani, pemerintah daerah, komunitas lokal, dan lembaga pendidikan menjadikan pengelolaan hutan lebih transparan dan inklusif. Proses ini membentuk rasa saling percaya yang menjadi modal sosial penting dalam menjaga kelestarian hutan.
Sumber:

