Belantara

Menjaga Hutan Lereng Sumbing, Menjaga Napas Bumi

Gunung Sumbing, yang menjulang setinggi 3.371 meter di atas permukaan laut, terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung, Wonosobo, dan Magelang. Selain dikenal sebagai salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa, lereng Sumbing juga menyimpan kekayaan alam berupa hutan-hutan lebat yang berperan sebagai “paru-paru” oksigen bagi wilayah sekitarnya.

Kawasan hutan di lereng Sumbing sebagian besar terdiri dari hutan pinus yang dikelola oleh Perum Perhutani, hutan tropis pegunungan dengan vegetasi asli seperti puspa, akasia gunung, dan cemara, serta hutan campuran yang dihuni oleh tanaman bambu dan kaliandra. Hutan-hutan ini bukan hanya menghasilkan oksigen, tetapi juga berfungsi menjaga kualitas udara, menyerap karbon, serta menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk burung endemik Jawa.

Selain fungsi ekologis, hutan di lereng Sumbing menjadi sumber utama mata air bagi desa-desa di sekitarnya. Air yang mengalir dari lereng gunung ini dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, irigasi pertanian, dan bahkan menjadi pemasok bagi beberapa instalasi air bersih. Vegetasi hutan juga berperan penting menahan erosi tanah dan mengurangi risiko longsor, terutama saat musim hujan.

Namun, kelestarian hutan Sumbing menghadapi ancaman serius akibat alih fungsi lahan menjadi area pertanian tembakau, sayur-mayur, dan kopi. Meski sektor pertanian menjadi sumber penghidupan utama masyarakat lereng, pembukaan lahan yang tidak terkendali dapat mengurangi luas tutupan hutan. Akibatnya, kapasitas hutan untuk memproduksi oksigen dan menjaga keseimbangan ekosistem akan berkurang.

Upaya pelestarian mulai dilakukan oleh pemerintah daerah, Perhutani, dan komunitas pecinta alam melalui program reboisasi, patroli hutan, serta edukasi lingkungan kepada masyarakat. Kegiatan pendakian juga diarahkan untuk mendukung prinsip ekowisata, sehingga selain menikmati keindahan alam, pengunjung turut menjaga kebersihan dan kelestarian hutan.

Hutan lebat di lereng Gunung Sumbing adalah aset ekologis yang tak ternilai. Sebagai paru-paru oksigen alami, keberadaannya sangat penting bagi kesehatan lingkungan dan kehidupan masyarakat. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.

Sumber:

https://www.medcom.id/nasional/daerah/zNPYLDgb-3-ribu-hektare-hutan-gunung-sindoro-sumbing-kekeringan

Related posts
BelantaraFeature

7 November: Temanggung Rayakan Hari Wayang Nasional dengan Semangat Budaya dan Persaudaraan

Setiap tanggal 7 November, Indonesia memperingati Hari Wayang Nasional sebagai pengakuan atas seni…
Read more
Belantara

Jejak Karya dari Batu: Muntilan dan Warisan Kerajinan yang Tidak Lekang oleh Waktu

Muntilan, sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dikenal luas bukan hanya karena…
Read more
Belantara

Ketika Bumi Memanas: Menyadari Krisis Iklim yang Kian Nyata di Sekitar Kita

Perubahan iklim bukan lagi isu yang jauh atau hanya dibicarakan di ruang-ruang konferensi dunia.
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter

Daftarkan diri anda untuk menjadi member dan dapatkan pemberitahuan saat ada informasi terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *