Candi Borobudur begitu terkenal akan kemegahan yang dimilikinya, maka tak heran jika membuatnya terkenal hingga ke mancanegara. Tak hanya kemegahannya saja, Candi Borobudur juga menjadi salah satu monumen Budha yang terbesar di dunia. Yuk kita cari tahu kemegahan arsitektur Candi Borobudur melalui sejarahnya!
Letaknya berada di Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia pada tahun 1991 oleh UNESCO. Bangunan bersejarah ini telah mengalami masa pemugaran yang cukup lama untuk mengembalikan keagungannya, setelah mengalami beberapa kondisi yang membuat bangunan tersebut mengalami beberapa kerusakan. Karena candi ini menjadi peninggalan sejarah yang penting untuk dilestarikan. Bagaimanakah sejarah terbentuknya Candi Borobudur? Mari kit acari tahu bersama!
Pada masa dinasti sailendra yang membangun bangunan peninggalan Budha yang terbesar di dunia sekira 780-840 Masehi. Dinasti sailendra adalah dinasti yang sedang berkuasa pada masa-masa kala itu. Candi Borobudur dibangun dengan tujuan sebagai tempat yang digunakan dalam pemujaan agama Budha sekaligus tempat ziarah. Pada bangunan candi terdapat relief-relief yang berisi petunjuk bagi manusia untuk menjauhkan diri dari nafsu yang ada di dunia dan jalan menuju pencerahan juga kebijaksanaan menurut ajaran Budha. Candi ini ditemukan pada tahun 1814 oleh pasukan Inggris semasa pimpinan Sir Thomas Stanford Raffles. Kemudian berhasil dibersihkan kembali seluruhnya pada tahun 1835.
Candi ini dibangun menggunakan gaya mandala yang sangat mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Budha. Dilihat dari struktur bangunannya, bangunan ini berbentuk persegi empat dan memiliki empat pintu masuk serta titik pusat berbentuk lingkaran. Terbagi menjadi dua bagian dari luar ke dalam yaitu bagian alam dunia yang terbagi lagi ke dalam tiga zona, dan alam nirwana pada bagian pusat. Apa saja bagian dari ketiga zona tersebut?
- Kamadhatu
Memiliki arti alam dunia yang terlihat dan tengah dialami oleh manusia saat ini. Pada zona ini terdapat 160 relief berisi tentang karmawibhangga sutra atau hukum sebab akibat. Menjelaskan tentang sifat dan nafsu manusia seperti membunuh, memperkosa, penyiksaan, fitnah, dan merampok. Pada bagian ini tudung penutup bagian dasar dibuka permanen, agar para pengunjung dapat melihat relief yang terdapat dibagian bawah.
2. Rupadhatu
Berarti alam peralihan, yaitu manusia yang telah dibebaskan dari urusan dunia. Terdapat galeri ukiran relief batu dan patung-patung budha. Terdiri dari 328 patung budha yang memiliki relief pada ukirannya. Berdasarkan transkrip sansekerta terdapat 1300 relief pada bagian ini, yaitu lalitawistara, gandhawyuha, dam awadana yang membentang sekitar 2,5 km dengan 1212 panel.
3. Arupadhatu
Yang artinya alam tertinggi, yaitu rumah tuhan. Terdapat tiga serambi berbentuk lingkaran yang mengarah ke bagian pusat yang memiliki arti kebangkitan dari dunia. Tidak dapat ornament dan hiasan pada bagian ini, menunjukkan kemurnian yang paling tinggi. Serambi terdiri dari stupa berbentuk lingkaran yang berlubang, lonceng yang terbalik, serta berisi patung budha yang mengarah ke bagian luar candi. Terdiri dari 72 stupa yang dihitung secara keseluruhan. Stupa ukuran terbesar yang berada ditengah tidak berukuran lebih tinggi seperti aslinya, yang memiliki tinggi 42m dan diameter 9,9m. dan stupa yang mengelilingi berbeda dengan stupa yang berada dipusat, karena stupa pusat tidak berisi atau kosong. Dan hal ini masih menjadi perdebatan akibat perbedaan pendapat mengenai isi pada stupa pusat.
Relief candi secara keseluruhan terdapat 504 budha dengan sikap meditasi juga enam posisi tangan yang berbeda di sepanjang candi. Pada masa restorasi di abad ke 20, ditemukan dua candi disekitar Borobudur yang berukuran lebih kecil, yaitu Candi Pawon dan Candi Mendut. Berdasarkan kepercayaan disana, ketiga candi tersebut memiliki hubungan keagamaan yang terdapat pada tiga candi tersebut namun masih belum diketahui secara pasti bagaimana proses ritualnya. Kini ketiga candi tersebut digunakan sebagi rute dalam Festival Hari Waisak yang digelar setiap tahunnya, pada bulan April dan Mei ketika bulan purnama. Dilakukan sebagai peringatan atas lahir, meninggalnya, dan pencerahan yang telah diberikan Budha Gautama.

