BusinessWorld

Ini Penyebab IHSG Anjlok dan Dihentikan Perdagangannya!

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ambruk hingga di angka 7% pada perdagangan Selasa, 18 Februari 2025 pukul 11.50 WIB. Penurunan ini dianggap terdalam sejak pandemi Covid-19 di 2020 lalu, IHSG saat ini turun pada level 6.084. Tak heran jika fakta ini membuat masyarakat panik dan kebingungan, namun apakah alasan dibalik anjloknya IHSG?

Bursa Efek Indonesia (BEI) melihat pemberat utamanya adalah sejumlah emiten milik konglomerat kenamaan di Indonesia ikut memberatkan Gerak IHSG. Yang mana diawali dengan runtuhnya saham-saham unggulan atau bluechips yaitu bank-bank besar dan emiten teknologi raksasa yang dipunyai oleh para konglomerat. Ini membuat saham DCI Indonesia menyentuh kembali pada batas auto rejection bawah (ARB) atau ambruk 20% ke level 115.800. Perlu kita tahu, Saham DCII sebelumnya pada reli panjang dengan kenaikan harian yang tetap menyentuh auto reject atas (ARA). Hingga akhirnya, kini kondisinya langsung berbalik arah saat saham keluar dari papan pemantauan khusus.

Ini beberapa penyebab yang disinyalir menjadi alasan dari anjloknya IHSG:

1. APBN Defisit dan Penerimaan Pajak

Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN pada akhir Februari 2025 dinyatakan defisit sebesar Rp31,2 triliun atau 0,13% terhadap PDB (Produk Dosmetik Bruto). Pendapatan negara pada akhir 2025 yang anjlok 20,85% dibandingkan 2024, yang mana saat ini hanya mencapai Rp316,9 triliun. Ini disebabkan oleh setoran pajak yang terkontraksi sebesar 30% dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp269,02 triliun. Menurut Mitra Pemasaran Mandiri Sekuritas, Arwendy Rinaldi Moechtar menyatakan pelemahan ekonomi dosemetik dan ketidakpastian regulasi terlihat pada perlambatan ekonomi dalam negeri yang semakin terasa dan turunnya penerimaan pajak yang mengarah pada lemahnya aktivitas bisnis.

2. Isu Sri Mulyani yang Mundur dari Jabatannya

Isu Mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani membuat pasar bergejolak. Seperti yang diungkapkan oleh Rinaldi Moechtar rumor ini membuat arus dana asing keluar dari pasar, sebab para investor asing telah percaya dengan kinerja yang dilakukan Sri Mulyani. Walupun pihak istana telah membantah isu tersebut dan menyatakan hoax, namun tidak memperlihatkan pernyataan resmi yang ungkapkan dari Sri Mulyani atau pihak terkait. Hingga saat ini, Sri Mulyani masih bertugas dalam menjalankan dan tanggung jawab sebagai Menteri Keuangan dan menghimbau agar masyarakat tidak terprovokasi informasi tidak jelas.

3. Pelemahan Daya Beli

Seperti yang kita tahu bahwa sumber pendapatan negara adalah daya beli, namun saat ini terlihat pelemahan dari kalangan tingkat menengah. Ini terlihat pada deflasi yang terjadi pada Februari 2025 ini adalah yang terparah dalam seperempat abad. Catatan dalam neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$3,12 miliar di Februari 2025 ini, yang menandai rekor surplus 58 bulan berturut-turut. Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat yang rendah berakibat pada permintaan barang yang minim di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tidak adanya pada permintaan membuat harga-harga barang pun turun, tanpa perlu dipenuhi dari impor.

4. Kejelasaan Perihal Danantara

Pembentukan Badan Pengelola Investasi atau BPI Daya Anagata Nusantara atau Danantara turut memicu timbulnya kekhawatiran para kalangan investor. Ini disebabkan masih belum adanya aturan yang rinci terkait operasional dan penempatan investasi badan. Sri Mulyani menyampaikan pesan terkait BUMN dan Danantara, yaitu kepastian pengelolaan BUMN secara professional dan transparan sebagai prinsip. Tentunya manajemen BUMN akan bertanggung jawab untuk menjelaskan ke masyarakat sehingga memiliki kepercayaan.

5. Perang Tarif oleh Donald Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menimbulkan sorotan terkait kebijakan perang tarif yang tengan dikobarkannya. Tentunya membuat ekonomi global mengalami ketidakpastian yang cukup besar dan membuat ivestor khawatir. Dampaknya banyak para pemodal kakap menarik dananya dari pasar saham, salah satunya Indonesia. Pemerintahan AS berencana menerapkan kebijakan tarif baru bagi para negara yang memiliki surplus perdagangan tinggi dengan AS. Ketidakpastian global karena kekhawatiran perang dagang dan arus keluar dana asing menjadi factor utama mendorong investor asing keluar dari pasar saham Indonesia. Banyak hal yang dapat mengalihkan dana ke aset yang lebih aman, seperti resiko tarif impor, pembatasan perdaganag, hingga potensi ketengangan baru antar negara besar memicu investor lebih berhati-hati.

Sumber: 7 Fakta IHSG Ambruk dan Dihentikan Perdagangannya, Kronologi-Penyebab www.cnbcindonesia.com

Media Asing Sebut MBG, Danatara, Sri Mulyani, dan IKN Sebakan IHSG Anjlok www.kompas.com

Related posts
BusinessFenomena

Bajaj Maxride Jogja, Dari Primadona Sosial Media Hingga Badai Regulasi Pemkot!

Bajaj Maxride di Jogja tengah menjadi tren hangat di media sosial sepanjang tahun 2025. Banyak warga…
Read more
BusinessLifestylePolitics

Era Baru Purbaya: Thrifting Ilegal Diredam, Peluang Emas untuk Mode Lokal!

Fenomena thrifting atau jual beli pakaian bekas sempat menjadi tren yang sangat digemari di…
Read more
BusinessFenomenaNews

Drama Besar di DC Berbah: Ratusan Ribu Paket Nyangkut, Konsumen Mengeluh Kerugian dan Kekecewaan Meluas!

Keterlambatan pengiriman paket di Distribution Center (DC) Berbah, Sleman yang terjadi pada bulan…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter

Daftarkan diri anda untuk menjadi member dan dapatkan pemberitahuan saat ada informasi terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *