Magelang — Dalam Pengajian Minggu Pagi di Masjid Al-Huda Salaman (25/10/2026), Ustadz Widodo menyampaikan tausiyah inspiratif mengenai pentingnya memadukan akal dan zikir. Mengacu pada penjelasan dalam kitab Tafsir Al-Maradhi, beliau mengupas bagaimana Islam menuntun umatnya untuk menjadi pribadi yang cerdas dan produktif.
Sunnah Membaca QS. Ali ‘Imran 190–192 Saat Bangun Tidur.
Kajian diawali dengan anjuran membaca QS. Ali ‘Imran ayat 190–192 yang disunnahkan untuk diamalkan ketika seseorang baru saja bangun tidur. Dalam Tafsir Al-Maraghi, ayat ini menuntun kita untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah melalui penciptaan langit, bumi, serta pergantian malam dan siang. Renungan ini menjadi langkah awal menghidupkan fungsi akal sejak pagi hari.
Ciri Muslim Unggul: Berpikir & Berzikir
Ustadz Widodo menegaskan bahwa seorang muslim yang ideal harus memiliki dua elemen penting secara seimbang, yaitu suka berpikir dan rajin berzikir:
Selalu Berkembang Mencari Kebenaran: Kombinasi akal yang aktif dan hati yang senantiasa ingat kepada Allah akan menuntun seseorang untuk terus belajar, mengevaluasi diri, dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik karena selalu mencari kebenaran.
Meraih Kemajuan Dunia dan Akhirat: Umat Islam yang mau memaksimalkan potensi berpikir dan berzikirnya tidak akan tertinggal, melainkan semakin maju dalam urusan kehidupan dunia maupun keselamatan di akhirat.
Terhindar dari Sifat Mengeluh: Sebaliknya, orang yang enggan menggunakan akal pikirannya (tidak cerdas dalam menyikapi keadaan) biasanya hanya bisa mengeluh dan menyerah saat menghadapi masalah.
Karakter inilah yang melekat pada sosok Ulil Albab—yakni orang-orang yang memiliki akal pikiran yang sehat serta selalu mengingat Allah (dzikrullah) di setiap keadaan, salah satunya diwujudkan melalui perbanyakan bacaan tasbih.
Pelajaran tentang Iman, Kehidupan, dan Akhirat
Lebih lanjut, Ustadz Widodo memaparkan beberapa poin penting penutup dari rujukan tafsir tersebut:
1. Iman yang Berlandaskan Dalil: Keimanan seorang muslim harus berdiri di atas fondasi dalil yang kuat dan benar. Orang yang rajin belajar dan berproses akan selalu berusaha memahami apa saja ketentuan dan aturan Allah SWT.
2. Hakikat Siksa dan Al-A’raf: Diingatkan pula bahwa siksa neraka merupakan bentuk kehinaan yang nyata bagi mereka yang ingkar. Selain itu, dijelaskan pula mengenai Al-A’raf, yaitu sebuah tempat di antara surga dan neraka. Para penghuni tempat ini dapat menyaksikan secara langsung perbandingan yang kontras antara pedihnya siksa neraka dan nikmatnya karunia surga.
Semoga ringkasan materi ini memotivasi kita untuk menjadi bagian dari Ulil Albab—golongan yang senantiasa menggunakan akal untuk berpikir dan hati untuk berzikir.

