Site icon Suplemind Indonesia

Air Laut di Jakarta Lebih Tinggi daripada Daratan!

Foto tanggul di Jakarta yang memperlihatkan air laut lebih tinggi daripada daratan oleh Kompas.com

Foto tanggul di Jakarta yang memperlihatkan air laut lebih tinggi daripada daratan oleh Kompas.com

Apakah kamu pernah mendengar isu Kota Jakarta akan segera terendam air laut? Banyak video yang beredar melalui akun media sosial yang menunjukkan sebuah tanggul menahan air laut yang jauh lebih tinggi daripada daratan. Sontak isu tersebut menjadi perbincangan ini pun akhirnya memuncak kembali. Yuk, kita cari tahu lebih dalam!

Melalui beberapa video yang viral mengenai tanggul yang ada di pesisir utara laut Jakarta yang mulai rembes, retak, bahkan gelombang airnya membentuk cipratan. Cipratan air laut yang masuk ke daratan yang berada jauh lebih rendah daripada tanggul berdiri, hal ini nampak menjadi kekhawatiran masyarakat disekitar tanggul. Dibenarkan melalui beberapa penelitian bahwa dalam beberapa puluh tahun ke depan beberapa kota atau pulau akan terendam atau tenggelam akibat air laut yang semakin tinggi. Hal ini terjadi akibat pemanasan global, namun belum tentu ini terjadi di Jakarta.

Menurut warga setempat naiknya air laut ke daratan yang melebihi tanggul wajar terjadi disetiap tahunnya, kenaikan tinggi air laut dipengaruhi oleh musim seperti saat musim penghujan. Pemerintah melakukan perencanaan pembaruan tanggul sebagai upaya agar air laut tidak meluber ke daratan. Semakin tingginya air laut salah satunya disebabkan oleh proyek reklamasi pulau, yang menyebabkan daratan cenderung semakin turun sedangkan air laut semakin tinggi. Sejalan dengan prediksi oleh para ahli yang menyatakan bahwa pada 2050 Jakarta akan terjadi bencana yaitu tenggelam akibat tingginya air laut.

Diperkuat melalui isu air minum di DKI Jakarta yang masih mengambil dari air tanah. Penggunaan air tanah untuk air minum dinilai masih sangat besar dan memiliki efek pada ekologi yang mengakibatkan ancaman pada kehidupan di Jakarta. Penurunan tanah di Jakarta setiap tahunnya sekitar 0,1 hingga 8 cm per tahun. Ini dibenarkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menemukan bahwa wilayah di pesisir Jakarta lebih rendah daripada permukaan laut. Berarti wilayah tersebut seharusnya sudah terendam air laut, walaupun saat ini terbantu oleh tanggul yang dibangun agar menahan laju air ke daratan.

Kurang lebih 14% wilayah di Jakarta sudah berada dibawah permukaan laut, dan diperkirakan meningkat menjadi 28% di tahun 2050. Seperti pada daerah Muara Baru di Jakarta Utara yang turun sebanyak satu meter. Fenomena “Tenggelamnya Jakarta” ini terjadi akibat dua factor yaitu turunnya permukaan tanah akibat proses eksploitasi air tanah yang berlebihan. Dan naiknya ketinggian air laut akibat pemanasan global yang menyebabkan melelehnya gunung es di kutub utara dan Selatan.

Yang dapat dilakukan masyarakat agar hal ini tidak menjadi semakin fatal adalah melakukan langkah mitigasi yaitu mengurangi penurunan tanah. Seperti pengendalian eksploitasi air tanah, mengisi ulang lapisan penyimpan air tanah, menyusun strategi pengelolaan air dali hulu-hilir juga sebalinya, mengembangkan alternatif suplai air yang digunakan industry dan rumah tangga, dan memperhatikan aspek geotrknik dalam perencanaan juga desain bangunan dan infasyruktur. Pusat Riset Kelautan Kementrian Kelautan dan Perikanan merekomendasikan dua cara yang dapat dilakukan dalam mencegah terjadinya Jakarta tenggelam, yaitu melakukan perlindungan dan akomodasi. Upaya perlindungan dapat dilakukan dengan pembangunan tanggul pantai juga sungai yang disertai dengan sistem pengaturan hidrologi agar lalu lintas air laut ke sungai, juga sebaliknya agar air tersebut dapat berpindah lancar dan tidak terhambat. Kemudian akomodasi dilakukan dengan pembangunan menggunakan bahan tidak sensitive pada penurunan tanah, seperti kayu dengan konstruksi rumah panggung yang menyesuaikan kondisi kenaikan permukaan air laut.

Exit mobile version