Site icon Suplemind Indonesia

flexing: kebiasaan Gen Z  lebih mementingkan gengsi daripada kebutuhan

Magelang,Jawa Tengah– Dalam dunia yang dipenuhi oleh media sosial dan pengaruh digital, generasi Z(Gen Z) tampaknya semakin terjebak dalam pola pikir hedonistik, di mana gengsi dan citra diri menjadi prioritas utama. Fenomena ini terlihat dari kecenderungan mereka untuk menghabiskan uang pada barang-barang mewah dan trend terbaru, seringkali mengesampingkan kebutuhan dasar. Masyarakat kini menyaksikan pergeseran nilai di mana kepuasan instan dan penampilan di dunia maya lebih penting daripada pertimbangan finansial dan keberlanjutan.

Banyak Gen Z menganggap barang-barang mewah sebagai simbol status yang dapat meningkatkan citra mereka di mata teman-teman dan pengikut media sosial. Fenomena ini tidak hanya mengubah pola konsumsi, tetapi juga menciptakan tekanan sosial yang dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka. Banyak juga orang tua yang merasa dirugikan oleh perilaku konsumtif anak-anak mereka, karena pengeluaran yang tinggi untuk barang-barang tidak perlu sering kali mengganggu kestabilan keuangan keluarga.

Beberapa orang tua mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap pandangan Gen Z yang mengutamakan lifestyle nya dibandingkan dengan kebutuhan hidupnya.

Mereka tidak setuju dengan pemikiran Gen Z yang lebih mementingkan lifestyle nya karena kebanyakan Gen Z masih meminta uang kepada orang tua nya padahal sebenarnya kebutuhan orang tua masih banyak yang harus dipenuhi.

Sekar Pangastuti (59) salah satu orang tua yang memiliki anak berusia 20 tahun berpendapat jika dirinya selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan anaknya, tapi tetap membatasi pada hal yang memang benar diperlukan.

”Saya Setuju kalau masih bisa mementingkan prioritas seperti arah masa depan, tapi tidak setuju kalau hanya untuk gaya gayaan yang bikin boros,”ujarnya

Exit mobile version