PoliticsWorld

Ternyata Kasus Korupsi Besar di Pertamina Bukan Pertama Kalinya Terjadi!

Foto Ibnu Sutowo dirut Pertamina era Orba yang lakukan korupsi besar oleh economy.okezone

Pada era Orde Baru, Pertamina pernah membuat geger Indonesia dengan skandal korupsi hingga membuat Hatta dan Hoegeng enggan dimakamkan di TMP Kalibata. Hal ini terjadi karena terdapat pejabat Pertamina yang dimakamkan di sana. Ia adalah Ibnu Sutowo, kakek mertua Dian Sastro sebagai pemimpin Pertamina, yang saat itu sebagai penopang utama pembangunan dan investasi negara di bidang usaha.

Karir Ibnu Sutowo dimulai dengan dunia medis sebagai seorang dokter, Ia pun pernah menjadi dokter pemberantas malaria. Jalur hidupnya berubah saat Ia memutuskan beralih ke dunia militer, kemudian diangkat sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara di Sumatera Selatan dan bergabung dengan TNI di 5 Desember 1946. Berakhir pada pengelolaan perusahaan minyak nasional, setelah ditunjuknya untuk menjadi dirut PT Pertamina oleh KSAD Letjen Nasution ditengah kebijakan dwifungsi ABRI.

Direktur Utama Pertamina ini digadang-gadang menjalankan perusahaan minyak milik negara seperti kerajaan bisnis miliknya sendiri. Kementrian Keuangan saat itu pun kesulitan untuk mengendus perputaran penghasilan dan pengeluaran Pertamina. Dalam koran Indonesia raya, Mochtar Lubis menyatakan terdapat pengeluaran-pengeluaran dengan jumlah sangat besar yang dipergunakan untuk dana di luar pekerjaan Pertamina, contohnya hadiah seperangkat alat golf mahal untuk seseorang yang disenangi atau diperlukan oleh Ibnu Sutowo.

Koran Indonesia Raya gencar memberitakan Ibnu Sutowo dalam mengelola Pertamina di tahun 1970-1973. Ternyata hal ini dipergunakan untuk mengusut hubungannya dengan keuangan Pertamina yang dianggap tidak transparan saat itu. Bahkan, dikabarkan Ibnu Sutowo sering menggunakan kas Pertamina untuk berbagai kepentingan pribadinya. Sejalan seperti yang diungkapkannya kepada wartawan Time, Ia mengaku membagikan derma hingga 500.000 dolar Amerika di tiap tahunnya. Uang tersebut diambilnya dari dana-dana pemerintah atau uang negara lainnya.

Titik terang terjadi ketika kasus ini dilimpahkan dalam pengadilan. Namun hingga saat itu Ibnu Sutowo tidak menyadari kebijakan atau gaya hidup yang dilakukannya adalah kontroversi. Menurutnya apa yang dia lakukan itu hanya meneruskan tradisi, sejalan dengan biografi Ibnu Sutowo menggemban Misi Revolusi: Sebagai Dokter, Tentara, Pejuang Minyak Bumi. Ia seperti merasa tidak bisa berbuat hal lainnya, kecuali dengan mengikuti aturan yang berlaku pada kehidupan dunia bisnis perminyakan.

Pengaruh besar yang dimiliki Ibnu Sutowo membuat tidak ada tindakan keberlanjutan terhadap kontroversi kasus korupsi yang dilakukannya. Proyek terakhir yang dilakukannya dinyatakan sebagai blunder Ibnu Sutowo, karena diverifikasi bahwa bisnis Pertamina saat itu dilakukan secara jor-joran berupa gas bumi cair, penyulingan minyak, petrokimia, dan penyewaan kapal tanker.

Terfokus pada kapal tanker yang dibelinya dengan kredit jangka pendek, sedangkan kredit jangka panjang yang diajukannya di bank Amerika sebagai harapan melunasi kredit jangka pendek tak kunjung cair. Ditambah kontrak yang telah diteken Ibnu membuat belitan utang yang menyebabkan Pertamina krisis, berbentuk hutang sebanyak 10,5 milyar dolar Amerika. Kemudian Bank Indonesia mengambil alih tanggung jawab terkait utang tersebut.

Ibnu Sutowo dipecat dari kedudukannya sebagai dirut Pertamina pada 5 Maret 1976, lalu digantikan oleh Piet Haryono yang sebelumnya menjabat sebagai direktur keuangan Pertamina. Walaupun dirinya lolos dari jeratan pengadilan, dirinya tetap menyatakan kekecewaannya atas pencopotan dirinya. Ibnu Sutowo mengendus jika hal ini disebabkan oleh ‘Mafia Barkeley’ yaitu kelompok teknonrat yang dipimpin Widjojo Nitisastro. Ia dan dua orang lainnya menempati sejumlah kursi Menteri bidang ekonomi bersama saat itu berperan untuk menjegal kebijakannya di Pertamina.

Sumber: Foya-Foya Bos Pertamina Ibnu Sutowo www.historia.id

Empat Kasus Korupsi Besar pada awal Orde Baru www.historia.id

Nama Ibnu Sutowo, yang juga dikenal sebagai kakek mertua artis Dian Sastrowardoyo, merupakan sosok berpengaruh di era Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto www.rmolsumsel.id

Related posts
BusinessLifestylePolitics

Era Baru Purbaya: Thrifting Ilegal Diredam, Peluang Emas untuk Mode Lokal!

Fenomena thrifting atau jual beli pakaian bekas sempat menjadi tren yang sangat digemari di…
Read more
FeatureJenderPolitics

Saat Putri Mangkunegaran Berani Tolak Presiden, Tolak Poligami dan Pilih Cinta Sejati!

Gusti Nurul, putri dari Mangkunegara VII, dikenal sebagai sosok wanita berpendirian kuat yang…
Read more
NewsPoliticsRisalah

Wali Kota Magelang Hadir dalam Upacara Bersejarah HUT ke-80 TNI, Tumpeng Jadi Simbol Persatuan

Wali Kota Magelang, H. Damar Prasetyo, hadir dalam Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Tentara…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter

Daftarkan diri anda untuk menjadi member dan dapatkan pemberitahuan saat ada informasi terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *