Site icon Suplemind Indonesia

Mengulik Sisa Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro di Magelang

Foto Museum Diponegoro mejadi tempat bersejarah akhir peperangan dengan Belanda oleh Mnews.id

Foto Museum Diponegoro mejadi tempat bersejarah akhir peperangan dengan Belanda oleh Mnews.id

Museum Diponegoro berdiri dengan gaya bangunan arsitekrtur khas Belanda di Jalan Diponegoro No 1, Kota Magelang masih kokoh terawat. Halaman luas berumput hijau menghadap ke arah gunung Sumbing dan dua patung meriam di depannya memperlihatkan bangunan ini berbeda dengan bangunan lainnya. Siapa sangka bangunan tersebut menjadi bangunan bersejarah pada masa itu.

Menurut sejarahnya bangunan ini adalah rumah dinas milik Jendral De Kock yang saat itu memiliki keuasaan Belanda di Indonesia. Dibangun pada tahun 1810 yang kemudian berubah menjadi kantor Karisedenan Kedu, dan kemudia diresmikan menjadi museum oleh Presiden Soekarno di tahun 1969. Walaupun kini akhirnya gedung ini beralih fungsi menjadi sebuah museum yang menyimpan barang-barang berserah milik mendiang Pangeran Diponegoro.

Pada bagunan ini lah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda saat sedang berunding dengan Jendral De Kock. Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas dalam meghadapi Belanda baik secara fisik maupun diplomasi, karena hal itu lah Belanda saat itu kerap mengalami kegagalan. Penangkapan itu berhasil dilakukan atas kelicikan Belanda melalui Jendral De Kock yang awalnya mengajak berunding dan kemudian berakhir dengan aksi penangkapan dirinya. Peristiwa ini terjadi pada 20 Oktober 1830 tepat di bangunan bekas kantor Karisedenan Kedu itu.

Museum ini dahulunya adalah kamar petilasan Pangeran Diponegoro, yang mana di kamar tersebut lah beliau ditangkap secara licik oleh Belanda. Mulanya pada tanggal 16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro ditemui oleh Kolonel Cleerens di Remo, Bagelen, Purworejo terakait ajakan runding. Perundingan itu berisi peperangan yang telah 5 tahun dilakukan oleh pihak Belanda untuk membekuk Pangeran Diponegoro belum dapat terlaksana.

Tawaran perundingan tersebut akhirnya disetujui oleh Pangeran Diponegoro, lalu Beliau bersama laskarnya di tanggal 28 Maret 1830 menemui Letnan Gubernur Jendral Markus de Kock. Dalam perundingan tersebut Belanda meminta agar perang dapat dihentikan, namun Pangeran Dipenogoro nenolak. Atas penolakan tersebut berbuntut pada persiapan Belanda dalam penyergapan yang di pimpin oleh Kolonel Du Perron yang mampu melumpuhkan Pangeran Diponegoro berserta laskarnya.

Di hari yang sama Pangeran Diponegoro diasingkan di Ungaran dan dibawa ke gedung Karisedenan Semarang. Tanggal 5 April 1830 Pangeran Diponegoro dibawa ke Batavia menggunakan kapal Pollux dan sampai di Batavia atau yang saat ini disebut Jakarta pada tanggal 11 April 1830, dan ditahan di Stadhuis atau museum Fatahillah. Gubernur Jendral Van Den Bosch menjatuhkan hukuman pengasingan pada tanggal 30 April 1830, yang kemudian dilakukan lah pengasingan di Sulawesi hingga wafatnya.

Dapat kita lihat bersama bagunan dari Museum diponegoro dirancang dengan gaya arsitektur khas Klasik Eropa. Museum kamar pengabdian Diponegoro bersifat memorial, sebab bangunan atau ruangan pameran merupakan bekas tempat Pangeran Diponegoro melakukan perundingan dengan Jendral De Kock. Terdapat beberapa benda-benda peninggalan Pangeran Diponegoro, yaitu:

Sumber: Museum Diponegoro, Saksi Bisu Penangkapan Pangeran Diponegoro Oleh Belanda di Magelang www.betanews.id

Museum Diponegoro Magelang www.magelangonline.com

Exit mobile version