Site icon Suplemind Indonesia

Waisak 2025 di Borobudur: Momentum Suci yang Gerakkan Ekonomi Lokal

UMKM lokal yang kebajiran rejeki saat peringatan Waisak 2025 di Borobudur oleh PATA Indonesia

UMKM lokal yang kebajiran rejeki saat peringatan Waisak 2025 di Borobudur oleh PATA Indonesia

Perayaan hari Waisak di Candi Borobudur bukan sekedar memperkuat Candi Borobudur sebagai pusat spiritual global, namun juga sebagai momen pendorong perekonomian masyarakat local. Sejalan dengan yang dilansir dalam InJourney Destination Management bahwa peringatan hari waisak ini mengajak umat untuk memperkuat nilai Kebajikan, pengendalian diri, welas asih, serta berkontribusi yang positif untuk masyarakat sekitar, lingkungan, dan dunia. Diperkirakan pada tahun 2025 ini angka kunjungan Waisak dapat menungkat antara 5-10 % atau sebanyak 30-40 ribu umat dan wisatawan yang datang.

Kampung Seni Borobudur menjadi salah satu target untuk menggerakkan ekonomi local, sebab lokasi tersebut digunakan sebagai pintu masuk utama menuju lokasi Waisak pada tahun ini. Alih-alih menjadi lokasi kantong parkir, hadirnya para pedagang local yang tertata rapi dan menawarkan berbagai cinderamata khas Borobudur menjadi salah satu opsinya. Kampung Seni Borobudur merupakan upaya pemberdayaan masyarakat setempat melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah berupa tempat relokasi para pedagang serta perajin, yang memperkuat identitas budaya juga ekonomi kreatif. Kemudian Pasar Medang dihadirkan kembali sebagai tempat kuliner yang bercitra rasa khas dan berpadu dengan seni budaya local yang menakjubkan. Dalam pasar ini menghadirkan sebanyak 60 UMKM local yang dapat dinikmati para pengunjung beru[a makanan lawas, ramban, dan anyaran.

Pasar Medak mengajak pengunjung untuk mencari jejak kearifan lama, hangatnya sapa, aroma rempah, dan cahaya hati yang menyinari untuk sesame, budaya, juga bumi. Terdapat berbagai penawaran aktivitas lainnya seperti Peken Piranti berupa kerajinan tangan, merchandise, wellness tool kit. Bhuvana Java yang menulusuri kekayaan wastra Nusantara yaitu jamu jawi. Dan Temu Sejatining Diri yang menampilkan Dendang Medang, Parade Tarian, Mantra Lintas Agama, dan Ragam Kesenian.

Tercatat lebih dari 1.900 pelaku UMKM local terlibat secara aktif dalam perayaan Waisak yang terbagi ke dalam kuliner, kriya, dan penyedia jasa pariwisata. Perayaan Waisakj ika dilihat lebih dalam tidak terbatas pada momen spiritualnya saja, tetapi mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat local yang berada dalam kawasan destinasi prioritas. Data Persatuan Hotel dan Restoran RI atau PHRI menunjukkan bahwa tingkat hunian di kawasan Borobudur terisi hingga 100% dan okupansi Balkondes di sekitar Borobudur mencapai 100%.

Menurut Direktur InJourney Destination Mangement Febriana Intan mengungkapkan bahwa kehadiran candi Borobudur mampu memberikan multiplier effect untuk perekonomian daerah yang melibatkan UMKM setempat guna mencapai pertumbuhan tahunan yang lebih dari 4,7%. Contohnya VW Safari yang aktif melayani wisatawan yang berkeliling kawasan Borobudur naik drastis sebanyak 600unit selama perayaan Waisak. Tak hanya itu, Siti Fatonah penjual topi di Kompleks Candi Borobudur pun turut banjir rezeki dengan meningkatkan penjualan. Ia meyakini bahwa mendapatkan perbedaan hasil dari hari biasanya, saat persiapan kirab Waisak Siti sudah menjual sebanyak 300 buah topi.

Sumber: Waisak Jadi Momentum Pemicu Dampak Ekonomi dan Perkuat Candi Borobudur sebagai Destinasi Pariwisata Kultural dan Spiritual Dunia www.injourneydestination.id

InJourney Dorong Ekonomi daerah Lewat Perayaan Waisak di Candi Borobudur www.news.detik.com

Waisak 2025, Pedagang Topi di Candi Mendut Mendulang Rezeki www.kompas.tv

Exit mobile version