Kalender Islam atau hijriah akan berganti tahun, dari 1446 H menjadi 1447 H. Pada hari pertama memasuki kalender Islam atau biasa disebut Muharram, yakni jatuh pada 1 Muharram. Bagi orang Jawa, Tahun Baru Islam di Indonesia dinamai dengan malam 1 Suro. Suro atau sura adalah bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah. Sedangkan malam 1 suro digunakan untuk menyebut malam tahun baru ketika akan memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa.
Umumnya diberbagai daerah di Jawa, saat memasuki bulan Suro atau malam 1 Suro akan diselenggarakan tradisi suroan sebagai bentuk perayaan pergantian tahun Hijriah dan mengenang peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hal tersebut tertuang dalam buku Tradisi Ziarah Makam Sunan Gunung Jati Cirebon Jawa Barat karya Syaripulloh yang dikutip tim suplemind.id dari detik.com. Selanjutnya, bagi masyarakat Jawa bulan Suro ini dianggap menjadi bulan yang penuh kesakralan.
Seperti rangkaiang Grebeg Suro Gunung Tidar tahun ini yang dilangsungkan selama dua hari dan acara puncak dilangsungkan dengan ritual di puncak Gunung Tidar pada malem 1 Suro. Pada hari pertama dilangsungkan pentas seni yang diikuti oleh peserta asal Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, yang dimulai sejak pagi hingga sore hari secara bergantian. Kemudian pada hari kedua menampilak pentas seni dari pagi hari, Kirab budaya pada puku 4 sore hari, dan dilangsungkan ritual pada pukul 9 malam.
Ritual tersebut berisi arak-arakan membawa tumpeng, uba rampe, dan tiga gunungan menuju ke puncak Gunung Tidar. Acara kirab ritual adat ini merupakan tradisi dari juru kunci dan abdi Gunung Tidar yang dinamai Bakti Alam Gunung Tidar. Tumpeng, uba rampe, dan gunungan yang dibawa naik ke puncak Gunung Tidar adalah simbolis atas rasa Syukur pada leluhur yang ada di Gunung Tidar, sehingga rangkaian acara diikuti oleh masyarakat magelang hingga lereng Gunung Sumbing dan Sindoro.
Terdapat ratusan orang yang mengikuti ritual dengan mayoritas didominasi pakaian serba hitam dengan membawa tumpeng dan gunungan berupa keripik, kaus, hasil bumi, dan buah-buahan. Adapun di puncak Gunung Tidar sudah banyak orang yang menunggu untuk berebut gunungan. Warga yang hadir untuk berebut gunungan dipercayai akan mendapatkan keberkahan dan keselamatan, sehingga mereka rela datang dari rumahnya yang jauh.
Menurut pantauan tim suplemind.id, Damar Prasetyono mengungkapkan bahwa acara tersebut menjadi acara rutin atau tahunan yang perlu dilestarikan sehingga event serupa akan dimasukkan dalam agenda kegiatan di Kota Magelang. Ia berkomitmen akan menjadikan ikon Gunung Tidar yang penug historical, legenda, dan modal utama dari Kebun Raya Gunung Tidar yang nantinya akan menjadi alternatif wisata religi yang ada di Indonesia. Mengingat sejarah Gunung Tidar tidak hanya menjadi wisata religi namun juga tempat pendidikan bagi Akademi Militer yang menjadi pencetak lulusan 2 presiden di Indonesia sebagai modal besar pengembangan pendidikan ke masa depan.
Pemerintah memandang budaya local seperti Grebeg Suro perlu dipertahankan, oleh karena itu pihaknya akan menata kawasan Gunung Tidar menjadi zona religi dan edukasi agar makin menarik dan berdampak ekonomi bagi warga. Kepala UPT Kebun Raya Gunung Tidar menyebut jumlah peserta ritual malam 1 Suro tahun 2025 ini akan mencapai 8.000 orang. Hal tersebut tentunya akan berdampak signifikan pada kunjungan wisata dan ekonomi warga, khususnya UMKM.
Sumber: Kenapa Tahun Baru Islam Disebut Malam 1 Suro? Ini Penjelasannya www.detik.com
Grebeg Suro Gunung Tidar Magelang Hari Ini, berikut Acaranya www.detik.com
Grebeg Suro, Tradisi Budaya yang Bangkitkan Wisata Gunung Tidar Magelang www.kedu.harianjogja.com
Malam 1 Suro di Gunung Tidar Magelang Warga Berebut Gunungan www.detik.com

