Kebumen dan Wonosobo, dua kabupaten di Jawa Tengah yang kaya akan tradisi, kini tengah menjadi pusat perhatian di media sosial, terutama TikTok. Dua kesenian rakyat khas daerah tersebut yakni Jathilan dan Ndolalak yang sekarang ini bertransformasi menjadi konten digital yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh lapisan kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian budaya. Di balik gerakan dinamis dan kostum penuh warna yang tampil memukau di layar ponsel, tersembunyi dinamika baru yang mencerminkan bagaimana generasi muda menjembatani tradisi dan teknologi.
Jika dahulu seni Jathilan Adalah tarian kuda lumping dengan nuansa mistis dan Ndolalak merupakan tarian rakyat Wonosobo yang dibawakan secara berpasangan dengan iringan music, kini hanya tampil dalam panggung-panggung hajatan desa, kini kontennya bisa menjangkau jutaan orang dalam hitungan jam lewat TikTok. Penggunaan aplikasi ini bukan hanya menjadi strategi promosi budaya, melainkan juga menjadi ruang eksistensi baru bagi komunitas seni tradisi yang sebelumnya termarjinalkan oleh arus budaya populer modern.
Salah satu video dari grup seni Jathilan “Turonggo Seto Manunggal” asal Kebumen, misalnya, pernah mencapai lebih dari 2 juta penonton hanya dalam tiga hari setelah diunggah. Video tersebut menampilkan seorang penari dalam kondisi trance yang diberi air kelapa oleh sesepuh kelompok. Komentar dari penonton datang dari berbagai latar belakang, mulai dari penikmat seni, pelajar, hingga diaspora Indonesia yang merindukan nuansa kampung halaman. Namun di balik video tersebut, para pelaku seni dan pengamat budaya mulai menggarisbawahi pentingnya menjaga esensi dan nilai luhur dari kesenian tersebut. Di sisi lain, TikTok juga membuka ruang baru untuk regenerasi seniman lokal. Anak-anak muda yang sebelumnya asing dengan Jathilan dan Ndolalak, kini aktif mengikuti latihan dan bahkan membuat remix gerakan ke dalam koreografi kekinian.
Dari sisi ekonomi kreatif, keterlibatan seni tradisi di TikTok juga membuka peluang komersialisasi yang sehat. Beberapa kreator konten bahkan telah mendapat endorsement dari produk lokal hingga pariwisata daerah. Pemerintah daerah pun mulai melirik potensi ini untuk memperkuat promosi wisata budaya. Festival Jathilan dan Ndolalak tahunan kini disiarkan secara langsung melalui TikTok Live, menjangkau audiens lebih luas dari sekadar pengunjung fisik.
Dengan segala dinamika tersebut, TikTok telah menjelma menjadi panggung digital baru bagi Jathilan dan Ndolalak. Ini bukan sekadar tren sesaat, tetapi representasi dari bagaimana budaya lokal dapat hidup, berkembang, dan membentuk identitas baru dalam lanskap digital. Generasi muda tidak lagi hanya mewarisi budaya, mereka menciptakan ulang dan menyebarkannya dengan cara mereka sendiri. Jathilan dan Ndolalak di TikTok adalah bukti bahwa budaya bisa viral tanpa kehilangan ruhnya. Yang dibutuhkan adalah kesadaran, kolaborasi lintas generasi, dan dukungan dari semua pihak agar transformasi ini tidak menjadi sekadar tontonan, tetapi juga ruang edukasi dan inspirasi. Di layar yang kecil, dua tarian rakyat ini telah menjadi besar.

