Site icon Suplemind Indonesia

Sound Horeg: Dentuman Besar Budaya Kekinian yang Bikin Geger!

Foto sound horeg sebagai tradisi kekinian dari Jawa Timur oleh Viva

Foto sound horeg sebagai tradisi kekinian dari Jawa Timur oleh Viva

Fenomena sound horeg menjadi tren budaya yang menarik untuk dibahas karena menggabungkan unsur tradisi dan modernitas dalam bentuk parade tata suara yang unik dan bertenaga besar. Sound horeg sendiri merupakan istilah gabungan bahasa Inggris dan Jawa, di mana “sound” berarti suara dan “horeg” bermakna bergetar. Maka dari itu, sound horeg dapat disebut sebagai parade sistem suara dengan tata suara (sound system) berukuran besar yang digunakan untuk acara tradisional maupun kontemporer, menciptakan efek suara bas yang kuat hingga lingkungan sekitar bergetar.

Sound horeg muncul pertama kali di Jawa Timur, khususnya Malang sekitar tahun 2014 dan terus berkembang pesat hingga masuk ke berbagai daerah seperti Blitar, Jember, Pati, hingga Yogyakarta. Komunitas sound horeg memiliki ciri khas menggunakan kendaraan besar sebagai panggung berjalan dengan tata suara yang canggih dan volume suara super keras. Hal ini menjadi daya tarik khas dalam acara hajatan, festival karnaval, pawai budaya, hingga acara keagamaan. Menurut pantaun tim suplemind.id pada Unmuh Jember, fenomena ini merupakan bukti nyata dari perpaduan budaya tradisional yang diiringi teknologi modern, yang menciptakan hiburan massal sekaligus menunjukkan eksistensi sosial para pelaku sound system.

Dalam psikologi budaya, sound horeg tidak sekadar soal kekerasan suara, melainkan menjadi media ekspresi identitas dan interaksi sosial dalam masyarakat. Danan Satriyo Wibowo dari Universitas Muhammadiyah Jember memandang sound horeg berfungsi sebagai sarana pengukuhan status sosial di komunitasnya sekaligus pelepas stres atau hiburan yang murah meriah. Namun, perkembangan sound horeg juga menimbulkan dilema sosial karena tingginya volume suara dapat memicu konflik dengan masyarakat sekitar, sehingga diperlukan regulasi ketat agar tidak menimbulkan gangguan.

Menurut alinea.id, sejarawan musik dan peneliti sosial mengungkapkan bahwa sound horeg merupakan evolusi budaya hiburan rakyat yang terinspirasi dari kemajuan teknologi sound system sejak era 1970-an dan 1980-an. Tradisi menggelar sistem suara canggih ini berkembang di kalangan komunitas pecinta musik dan DJ lokal, khususnya di desa-desa seperti Sumbersewu di Banyuwangi, yang menjadikannya tradisi tahunan dan ajang kompetisi yang dikenal luas. Kompetisi adu kekuatan suara alias battle sound ini menjadi tontonan populer sekaligus peluang bisnis sewa sound system dengan tarif hingga puluhan juta rupiah per acara.

Meskipun memiliki daya tarik tersendiri, sound horeg juga menuai kritik tajam dari berbagai kalangan, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Berdasarkan fatwa yang dikeluarkan tahun 2025, sound horeg dinyatakan haram karena volume suaranya yang melebihi batas aman serta dampak negatif sosial, moral, dan kesehatan pendengarnya. Beberapa insiden kerusakan fasilitas publik dan percampuran tidak teratur dalam acara dengan sound horeg juga membuat fenomena ini kontroversial. Oleh sebab itu, fatwa meminta pengaturan ketat dalam penyelenggaraan acara dengan sound horeg agar tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat luas.

Di sisi lain, para komposer dan pelaku budaya mengingatkan pentingnya memahami sound horeg sebagai fenomena budaya yang berkembang dari kebutuhan hiburan masyarakat pinggiran dengan akses terbatas pada media hiburan lain. Industri sound horeg menjadi sumber penghidupan bagi banyak anak muda yang berprofesi sebagai sound engineer, DJ, dan pemilik komunitas sound system. NU Online menilai bahwa meski keras, sound horeg juga bagian dari kreativitas dan ekspresi seni yang harus dihargai selama tidak menimbulkan gangguan berlebihan.

Fenomena sound horeg tengah menjadi perdebatan antara pelestarian tradisi baru dan kebutuhan menjaga ketentraman masyarakat. Di berbagai daerah seperti Jombang, pemerintah setempat bersama kepolisian telah mengatur penggunaan sound horeg dengan persyaratan ketat, mulai dari batas volume, waktu acara, lokasi, serta izin resmi dari aparat desa dan warga. Langkah tersebut dibuat agar budaya tetap berkembang dan tetap membuat semua orang nyaman serta aman. Sehingga sound horeg bisa terus dinikmati sebagai bagian dari budaya kekinian tanpa memicu kericuhan di masyarakat.

Sumber: Sound Horeg: Antara Ekspresi Budaya Lokal dan Ancaman Konflik Sosial www.news.unmuhjember.ac.id

Sejarah sound horeg, antara hiburan dan kebisingan www.alinea.id

Komposer Soroti Kesalahpahaman Budaya Sound Horeg www.nu.or.id

Exit mobile version