Di tengah perkembangan teknologi pertanian yang semakin pesat, masih ada kesenjangan mencolok dalam hal akses perempuan terhadap pelatihan dan inovasi baru. Banyak penelitian dan laporan lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar program pelatihan pertanian lebih sering ditujukan untuk laki-laki, meskipun fakta di lapangan menunjukkan perempuan memiliki kontribusi besar dalam setiap rantai produksi pangan. Mulai dari pengolahan tanah, penanaman, panen, hingga pemasaran hasil pertanian, peran perempuan sangat nyata dan signifikan. Namun, ketika bicara soal kesempatan untuk mengikuti pelatihan mengenai penggunaan teknologi modern seperti alat pertanian mekanis, sistem irigasi pintar, hingga digitalisasi pemasaran hasil tani, perempuan sering kali tertinggal.
Kondisi ini tidak terlepas dari pandangan sosial yang masih menganggap sektor pertanian sebagai ranah laki-laki. Perempuan sering diposisikan hanya sebagai pendukung, padahal keterlibatan mereka justru menyentuh sektor-sektor vital. Ketidaksetaraan ini berimbas pada lambatnya adaptasi perempuan terhadap teknologi baru. Misalnya, ketika diperkenalkan metode pertanian organik dengan dukungan teknologi monitoring tanah berbasis aplikasi, hanya sedikit perempuan yang berkesempatan untuk belajar langsung karena keterbatasan akses. Hal ini pada akhirnya membuat perempuan petani lebih rentan tertinggal dalam persaingan pasar yang semakin ketat.
Padahal, banyak contoh di mana perempuan yang mendapat pelatihan berhasil membawa perubahan besar. Perempuan yang memahami penggunaan teknologi pertanian tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mampu menciptakan model bisnis baru. Misalnya, mereka bisa mengakses pasar digital untuk menjual hasil panen melalui e-commerce, memanfaatkan media sosial sebagai sarana branding produk, atau mengembangkan pertanian cerdas berbasis data. Kesempatan semacam ini membuktikan bahwa ketika perempuan diberi ruang setara, mereka tidak hanya menjadi pelaku, tetapi juga inovator dalam sektor pertanian.
Mendorong kesetaraan gender dalam akses teknologi dan pelatihan pertanian menjadi langkah penting menuju keberlanjutan pangan. Pemerintah, lembaga pendidikan, hingga organisasi masyarakat sipil perlu memastikan bahwa setiap program pelatihan bersifat inklusif. Kehadiran mentor perempuan dalam bidang teknologi pertanian juga bisa menjadi teladan yang menginspirasi. Jika perempuan mampu menguasai teknologi pertanian modern, maka mereka akan semakin berdaya, baik secara ekonomi maupun sosial. Kesenjangan yang selama ini membatasi mereka perlahan akan hilang, digantikan dengan narasi baru tentang perempuan sebagai garda depan inovasi di sektor pertanian.

