Industri fesyen menyumbang sekitar 4% dari total emisi gas rumah kaca global. Ironisnya, lebih dari 50% pakaian siap pakai (fast fashion) dibuang dalam kurun waktu satu tahun. Menanggapi krisis lingkungan ini, Generasi Z (Gen Z) kini muncul sebagai penggerak utama dalam pergeseran tren mode menuju gaya hidup yang ramah lingkungan.
Bagi generasi yang tumbuh di era digital ini, pakaian bukan lagi sekadar penutup tubuh atau pemuas estetika. Terjadi pergeseran masif pada perilaku konsumen modern. Pembeli muda kini jauh lebih kritis dan selektif sebelum membelanjakan uangnya.
Konsumen aktif mencari nilai otentik di balik sebuah produk, seperti pelestarian bumi, kemanusiaan, dan kesetaraan. Faktor rasa aman terhadap dampak lingkungan (kenyamanan hati) perlahan menggeser dominasi kerumitan desain semata.
Thrifting dan Busana Vintage Jadi Solusi
Bentuk nyata kepedulian lingkungan Gen Z adalah melonjaknya tren thrifting (membeli pakaian bekas layak pakai). Tren mode ini diminati karena dua alasan utama:
- Kepedulian Lingkungan
Thrifting menjadi solusi tampil modis tanpa memicu produksi bahan baku baru yang mengonsumsi banyak energi. - Kondisi Finansial
Pakaian thrift dan vintage menawarkan harga lebih terjangkau, sehingga mudah memperbarui penampilan tanpa menguras kantong.
Meskipun proses distribusinya tetap menyisakan jejak karbon dari transportasi, metode ini dinilai jauh lebih baik daripada siklus produksi fast fashion.
Kebebasan Berekspresi Lewat “Style Core“
Kemudahan akses informasi digital membuat referensi fesyen Gen Z sangat beragam dan menolak batasan gaya tertentu. Kebebasan berekspresi ini melahirkan berbagai tren estetika baru yang dikenal dengan istilah style core.
Beberapa tren yang tengah naik daun di antaranya adalah cottagecore yang mengusung nuansa pedesaan Eropa dengan warna bumi (earth tone), serta cowboycore yang identik dengan penggunaan sepatu bot, jaket kulit, dan celana jin.
Tantangan Industri: Bahaya Greenwashing
Antusiasme Gen Z terhadap isu lingkungan menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku bisnis. Industri fesyen kini diperingatkan agar tidak terjebak dalam praktik greenwashing. Praktik ini menggunakan kampanye ramah lingkungan sebagai strategi pemasaran sesaat demi mendongkrak penjualan, tanpa mengubah proses produksi secara esensial.
Nilai keberlanjutan idealnya harus melebur menjadi identitas dasar (blueprint) sebuah merek. Ketika kepedulian lingkungan telah menjadi DNA sebuah jenama, produk tersebut dengan sendirinya akan menyampaikan pesan kepada konsumen tanpa perlu promosi berlebihan.
Di sisi lain, konsumen juga diimbau agar tetap jeli saat berbelanja. Aspek ramah lingkungan bisa hilang jika pembeli tidak memperhatikan kualitas dan bahan pakaian. Konsumen disarankan untuk menghindari bahan sintetis yang sulit terurai seperti poliester, serta memilih pakaian berkualitas baik agar dapat digunakan dalam jangka panjang.
Sumber:
Konsumen Gen Z Kritis Soal Isu Sosial, Brand Fesyen Wajib Punya Value kompas.com
Benarkah Tren Thrift Shop dan Vintage Fashion Lebih Ramah Lingkungan? www.kompas.com
Hidup di Dunia Digital, Alasan Fesyen Gen Z Lebih Beragam lifestyle.kompas.com

