Pemateri : Ustazd Nurul Huda / 20 Oktober 2026 / Masjid Al – Muqorobbin
Dalam kajian yang disampaikan oleh Ustazd Nurul Huda pada 20 Oktober 2026, terdapat pembahasan mengenai makna dan hikmah dari Surah Al – Insyirah dan Surah ‘Abasa. Kedua Surah ini memberikan pelajaran penting bagi umat Islam tentang kelapangan hati, kemudahan memaafkan, serta pentingnya menjaga ketulusan dalam mencari kebenaran dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kelapangan Hati dan Kemudahan dalam Surah Al – Insyirah
Surah Al – Insyirah, khususnya ayat 2 – 3 menjelaskakn tentang Allah SWT yang melapangka beban dari Nabi Muhammad SAW. Dalam Surah ini, terdapat pengulangan makna mengenai beban yang diringankan dan beban yang memberatkan punggung. Pengulangan tersebut bukan sekedar menyampaikan arti secara harfiah, melainkan juga menegaskan makna tentang pertolongan dan kelapangan yang Allah berikan kepada Rasulullah SAW.
Selain itu, pada kajian ini menekankan pentingnya memiliki hati yang lapang. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi yang memiliki sifat pemaaf dan penuh kasih sayang. Beliau tidak mudah menyimpan kebencian, bahkan mampu memaafkan orang – orang yang menyakiti dirinya. Sikap tersebut menjadi teladan bagi umat Islam agar tidak mudah marah, tidak menyimpan dendam, serta senantiasa berusaha memaafkan kesalahan orang lain. Dengan hati lapang, seseorang akan lebih mudah menerima keadaan, menghadapi ujian, dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Kemuliaan Manusia dalam Surah ‘Abasa
Pembahasan selanjutnya adalah Surah ‘Abasa, khususnya pada ayat pertama yang menggambarkan peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW bermuka masam dan berpaling. Peristiwa ini berkaitan dengan kedatangan seorang sahabat tunanetra bernama Abdullah Bin Ummi Maktum yang ingin memperoleh pengajaran agama dari Rasulullah SAW.
Dari peristiwa tersebut, kita belajar bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, kekuasaan, ataupun penampilan fisik. Seseorang tidak boleh dinilai rendah hanya karena memiliki keterbatasan atau berasal dari latar belakang sosial yang sederhana. Sebaliknya, kemuliaan seseorang tercermin dari ketulusan hatinya dalam mencari ilmu, kesungguhannya dalam menerima kebenaran, serta kedekatan kepada Allah SWT. Abdullsh Bin Ummi Maktum memberikan teladan tentang semangat belajar dan keinginan untuk memperoleh petunjuk agama, meskipun memiliki keterbatasan penglihatan.
Melalui kajian surah Al – Insyirah dan Surah ‘Abasa, kita diajak untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, pemaaf, rendah hati, dan menghargai sesama manusia. Kelapangan hati membantu kita menghadapi berbagai ujian kehidupan, sedangkan ketulusan dalam mencari kebenaran mengajarkan kita untuk terus memperbaiki diri.
Pada akhirnya, kemuliaan manusia bukan terletak pada apa yang dimilikinya, melainkan pada ketulusan hati, kualitas akhlak, dan kesungguhannya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga kajian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa memperbaiki diri, melapangkan hati, serta memperlakukan setiap manusia dengan penuh kasih sayang dan kehormatan.

