Secang – Kajian Malam yang digelar di Al Amin Secang pada 26 Oktober 2026, pukul 18.00-19.00 WIB, membahas perbandingan perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan negara tetangga, serta pandangan Islam tentang perang dan kematian di jalan Allah. Kajian ini diisi oleh Taufik Hartono.
Dalam ceramahnya, Taufik menyoroti bahwa kemerdekaan Indonesia diraih lewat perjuangan fisik yang berat dan pertumpahan darah, bukan diperoleh cuma-cuma. Menurutnya, hal ini berbeda dengan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang memperoleh kemerdekaan melalui proses persemakmuran atau pemberian.
Ia kemudian menjelaskan bahwa Islam membolehkan umatnya mengangkat senjata ketika perang benar-benar terjadi, khususnya menghadapi pihak yang menentang Allah, menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, serta menolak agama yang benar setelah dakwah disampaikan. Perang Ahzab dijadikan contoh, yakni ketika kaum musyrik dan Yahudi bersekutu menyerang Nabi Muhammad SAW.
Terkait kemuliaan syuhada, Taufik merujuk ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa orang yang gugur di jalan Allah hakikatnya tidak mati, melainkan hidup dan mendapat rezeki di sisi Tuhan mereka. Ia juga menjelaskan makna hijrah, yakni upaya menyelamatkan diri dengan berpindah dan menjauhi segala hal yang dilarang Allah SWT.
Meski membolehkan perang, Islam disebut menetapkan aturan yang sangat ketat. Dalam situasi perang sekalipun, umat dilarang menyakiti kelompok rentan seperti perempuan, orang tua, dan anak-anak, serta dilarang merusak lingkungan, termasuk mematahkan ranting pohon.
Taufik turut menyinggung kondisi geopolitik regional, mulai dari pasokan gas dan jalur pengiriman energi melalui Sumatera hingga kesiapsiagaan menghadapi ancaman luar, termasuk isu pertahanan yang berkaitan dengan Singapura dan wilayah Batam. Menurutnya, pemerintah mulai menunjukkan langkah diplomasi yang tegas.
Menutup pemaparannya, ia merujuk Surah Al-Baqarah ayat 190, yang memerintahkan umat Islam membela diri terhadap pihak yang memulai peperangan, namun tetap tidak boleh melampaui batas. Prinsip keadilan dan adab yang proporsional, tegasnya, harus tetap ditegakkan.

