Fenomena

Nikah Muda, Pasti Bikin Selalu Bahagia?

foto pernikahan: Jogjapolitan

Sekarang ini banyak sekali anak muda khususnya Gen Z melakukan pernikahan diusia yang relatif muda. Para generasi Z pun memamerkan pernikahan diusia mudanya dan menyatakan bahwa nikah muda itu sangatlah “menyenangkan”, dan memunculkan semacam tren untuk melakukan juga sebuah pernikahan di usia muda. Walaupun yang sebenarnya pernikahan tidak hanya dilakukan dengan dasar suka atau pun memiliki uang untuk menyelenggarakan pernikahan itu sendiri bukan?

Pemerintah telah mengatur sedemikian rupa Undang-Undang (UU) tentang perkawinan. UU nomor 16 Tahun 2019 pada Pasal 7 ayat 1, perkawinan diizinkan apabila pria dan wanita sudah berumur 19 tahun. Yang kemudian diperbaharui melalui UU Nomor 16 Tahun 2019, yang menyatakan keterbaruannya bahwa perkawinan dapat dilakukan ketika pria berusia minimal 19 tahun dan wanita minimal 16 tahun. Dengan begitu, maka pemerintah memberikan batasan minimal usia yang dianggap mampu untuk melakukan pernikahan. Namun apakah pada usia tersebut keduanya sudah mampu dalam berbagai aspek dalam mewujudkan pernikahan itu sendiri?

Dalam mengambil keputusan untuk melakukan nikah muda, keduanya harus mengetahui kesiapan diri juga usia ideal mereka. Agar setelah pernikahan dilakukan tidak berdampak buruk pada berbagai masalah seperti kesehatan mental keduanya diusia yang masih muda. Diperkuat melalui Badan kependudukan dan keluarga Berencana, usia yang paling ideal untuk menikah adalah 25 tahun bagi laki-laki dan 21 tahun bagi perempuan. Karena pada usia tersebut keduanya telah memiliki kesiapan mental juga fisik yang sudah dianggap baik. Begitu juga dengan kesiapan finansial, yang berarti mereka mampu untuk memenuhi kebutuhannya atau menghidupi hidupnya sendiri juga. Dari sisi kesehatan dan psikologi, ketika perempuan berusia antara 28 hingga 32 tahun adalah paling ideal untuk menikah.

Lalu apa yang harus dipersiapkan jika tetap mantap untuk menikah muda?

  1. Siapkan mental dan emosi

    Hidup bersama dengan latar kehidupan yang berbeda tak dapat dipungkiri untuk menghadapi berbagai masalah. Berbagai masalah sepele maupun besar atau serius pun akan beresiko pada pernikahan. Maka menyiapkan emosi, mental juga saling meredam ego antara keduannya perlu dilakukan. Jika keduanya tak pandai meredam ego dan tidak menemukan jalan keluar masalah akan berlarut dan berpotensi memicu pada permasalahan serius.

    2. Kesiapan finansial

    Tidak hanya untuk pengeluaran pada pesta atau resepsi yang akan digelar membutuhkan biaya yang sangat besar. Namun kondisi finansial sepanjang pernikahan dalam menjalankan rumah tangga menjadi poin terpenting. Maka diperlukan menabung, investasi, dan menambah pendapatan. Setelah menikah, kebutuhan akan menjadi tanggung jawab diantara keduanya saja dengan kata lain menjadi tanggungan bersama pasangan tanpa sponsor orang tua. Pola pikir dalam mengelola keuangan dilakukan demi mencapai kondisi finansial yang terbaik juga stabil.

    3. Mengikuti kelas pra nikah

    Kelas pra nikah dapat dilakukan dengan jasa professional ataupun pemerintah melalui KUA. Dengan bimbingan tersebut keduanya akan mendapatkan pengetahuan seputar pernikahan yang akan menjadi bekal dalam berumah tangga. Ditambah jika keduanya masih memiliki kecemasan, konsultasi pada konselor pernikahan dapat dilakukan untuk mendapatkan solusi.

    4. Memiliki pola pikiran yang terbuka dan fleksibel

    Ini penting untuk dimiliki keduanya ketika akan melakukan pernikahan, karena ujian yang akan dihadapi dalam mempertahankan kehidupan berumah tangga sangatlah bermacam-macam. Dengan pemikiran terbuka dan fleksibel maka akan mendapatkan solusi yang baik dan tidak monoton. Serta tidak mudah menyerah dalam mempertahankan pernikahan.

    5. Membangun pernikahan yang terus bertumbuh

    Tidak hanya menerima chaturanga dan kelebihannya saja, namun mampu beradaptasi agar terus bertumbuh. Tak jarang jika sudah menikah keduanya terhenti dalam pendidikan atau karir, namun sebaliknya keduanya dapat meniti karir juga pendidikan bersama. Tidak ada salahnya ketika sudah menikah namun masih berusaha melalui fase tersebut, juga disertai pertimbangan yang kritis dengan konseskuensinya.

    Related posts
    BusinessFenomena

    Bajaj Maxride Jogja, Dari Primadona Sosial Media Hingga Badai Regulasi Pemkot!

    Bajaj Maxride di Jogja tengah menjadi tren hangat di media sosial sepanjang tahun 2025. Banyak warga…
    Read more
    FenomenaLifestylePop Culture

    Ketika Lari Jadi Tren: FOMO dalam Pelari Culture

    Budaya lari kini tumbuh pesat di berbagai daerah. Komunitas bermunculan, event lari makin sering…
    Read more
    BusinessFenomenaNews

    Drama Besar di DC Berbah: Ratusan Ribu Paket Nyangkut, Konsumen Mengeluh Kerugian dan Kekecewaan Meluas!

    Keterlambatan pengiriman paket di Distribution Center (DC) Berbah, Sleman yang terjadi pada bulan…
    Read more
    Newsletter
    Become a Trendsetter

    Daftarkan diri anda untuk menjadi member dan dapatkan pemberitahuan saat ada informasi terbaru.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *