NewsPop Culture

Biawak Berdiri Gagah di Tengah Jalan, Tugu Nyentrik Ini Jadi Wisata Dadakan

sumber: https://tinyurl.com/muvcjtat

Tugu Biawak yang belakangan ini viral di media sosial menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen, khususnya warga Wonosobo dan sekitarnya. Tugu ini berlokasi di sebuah pertigaan jalan kecil di Desa Kalierang, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Penampakan tugu ini unik sekaligus nyentrik, karena menampilkan patung seekor biawak berwarna cokelat tua dengan detail yang cukup mencolok, berdiri gagah di atas sebuah pilar bundar bercat biru. Keunikan inilah yang membuatnya langsung menarik perhatian warganet, bahkan sampai menjadi bahan meme dan konten humor di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Twitter.

Meski terlihat sederhana, kehadiran Tugu Biawak ternyata menyimpan banyak makna bagi warga sekitar. Dalam wawancara yang sempat viral di TikTok, beberapa warga menyebutkan bahwa tugu tersebut dibangun sebagai simbol identitas desa, karena di wilayah itu dahulu sering ditemukan biawak yang hidup bebas di area persawahan dan tepi sungai. Biawak dipilih sebagai simbol karena dianggap kuat, tahan banting, dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Karakter tersebut dianggap merepresentasikan semangat dan etos kerja masyarakat Kalierang yang ulet dan mandiri.

Namun, di balik maksud baik tersebut, penampakan tugu ini justru menjadi viral karena dianggap “nyeleneh” dan sedikit menyeramkan oleh sebagian netizen. Bahkan tak sedikit yang menyandingkan tugu tersebut dengan berbagai karakter fiksi, membuat lelucon, atau menjadikannya sebagai titik temu yang ikonik jika sedang berada di Wonosobo. Meski demikian, banyak pula yang justru mengapresiasi keberanian dan kreativitas warga dalam mengekspresikan kearifan lokal lewat karya seni publik seperti tugu ini. Hal ini membuktikan bahwa seni dan simbol budaya bisa muncul dari tempat-tempat yang tak terduga, bahkan dari pertigaan kecil di desa.

Viralnya Tugu Biawak ini juga membawa dampak positif, terutama dari sisi promosi wisata desa. Sejumlah pengunjung dan pengguna jalan yang penasaran dengan tugu tersebut mulai mampir untuk berfoto dan membagikan pengalaman mereka di media sosial. Ini memberikan peluang baru bagi desa untuk mengembangkan potensi wisata lokal, seperti membuka warung kopi, menjual kerajinan tangan, hingga mengenalkan cerita-cerita lokal yang berkaitan dengan asal-usul tugu. Bahkan, beberapa pegiat komunitas di Wonosobo mulai menggagas ide untuk menjadikan tugu ini sebagai bagian dari tur budaya alternatif.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, viralitas bisa datang dari mana saja dan mengubah sebuah objek biasa menjadi ikon yang menarik. Tugu Biawak bukan hanya sekadar patung hewan, tapi juga telah menjadi simbol baru kreativitas desa, identitas lokal, dan kekuatan cerita yang membumi. Dari sini, kita bisa belajar bahwa kekhasan lokal, bila dikemas dengan autentik, mampu menembus batas ruang dan waktu bahkan menjadi jembatan yang menghubungkan desa dengan dunia luar melalui gelombang digital.

Related posts
FeatureLifestylePop Culture

Bukan Cuma Ikut Tren! Trik Ampuh Gen Z Pilih Makeup & Skincare yang Beneran Oke

Buat kamu para Gen Z! Tren skincare dan makeup emang lagi hype banget, tapi jangan hanya asal…
Read more
FenomenaLifestylePop Culture

Ketika Lari Jadi Tren: FOMO dalam Pelari Culture

Budaya lari kini tumbuh pesat di berbagai daerah. Komunitas bermunculan, event lari makin sering…
Read more
News

Konser Denny Caknan di Lapangan Maron Temanggung: Semangat Warisan Rasa di Malam HUT ke-191

Konser Denny Caknan di Lapangan Maron, Temanggung, menjadi salah satu puncak perayaan Hari Jadi…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter

Daftarkan diri anda untuk menjadi member dan dapatkan pemberitahuan saat ada informasi terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *