Series ini berpusat pada karakter Edi (Junior Roberts), seorang remaja berusia 18 tahun yang tengah berada pada fase puncak pubertas. Di tengah gejolak hormon, rasa penasaran, dan pencarian identitas dirinya, Edi justru menaruh ketertarikan khusus kepada guru biologinya, Julia (Naomi Zaskia). Alur cerita tersebut dikemas dalam balutan komedi dan drama keluarga, namun substansi yang dibawanya memunculkan berbagai reaksi dari masyarakat.
Sejak pertama kali diumumkan, Ejakulasi Dini langsung menjadi perbincangan. Bukan hanya karena jalan ceritanya yang tidak biasa, tetapi juga karena judulnya yang dianggap terlalu berani dan eksplisit. Banyak warganet menilai penggunaan istilah “ejakulasi dini” sebagai judul series berpotensi menimbulkan kontroversi, terutama karena istilah tersebut identik dengan isu kesehatan seksual yang masih dianggap sensitif dalam budaya masyarakat Indonesia.
Bagi sebagian kalangan, penggunaan istilah tersebut dianggap sebagai bentuk normalisasi terhadap pembicaraan seksual di ruang publik. Namun di sisi lain, ada pula yang melihatnya sebagai langkah edukatif.
Mereka berpendapat bahwa kesehatan reproduksi dan pubertas merupakan bagian dari proses tumbuh kembang manusia yang justru sering kali tidak mendapatkan ruang diskusi yang memadai. Akibatnya, banyak remaja mencari jawaban dari sumber yang belum tentu benar. Kontroversi yang mengiringi series ini juga tidak lepas dari sosok pemerannya. Junior Roberts sebelumnya sempat menjadi sorotan publik setelah menjalin hubungan dengan Sandrinna Michelle ketika sang aktris masih berusia 16 tahun.
Selain persoalan perbedaan usia yang cukup jauh, hubungan keduanya juga ramai diperbincangkan karena perbedaan keyakinan agama. Meskipun isu tersebut berada di luar konteks cerita, kehadiran keduanya dalam satu proyek membuat sebagian penonton kembali mengaitkan kehidupan pribadi para aktor dengan pesan yang disampaikan oleh series tersebut.
Di luar kontroversi yang berkembang, pertanyaan yang lebih penting justru terletak pada dampak tayangan ini terhadap penontonnya, khususnya remaja. Dalam dunia nyata, media memiliki kemampuan besar dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap suatu isu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebuah tayangan tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Konten hiburan selalu berinteraksi dengan realitas sosial, budaya, dan pengalaman hidup penontonnya. Oleh karena itu, perdebatan mengenai Ejakulasi Dini tidak semata-mata berkaitan dengan judul atau adegan yang ditampilkan, melainkan tentang bagaimana masyarakat memandang pendidikan seksual, batas kebebasan berekspresi, dan tanggung jawab industri hiburan terhadap audiensnya.
Pada akhirnya, series Ejakulasi Dini menghadirkan pertanyaan yang masih terus diperdebatkan hingga hari ini: apakah tayangan tersebut merupakan bentuk normalisasi isu seksual di kalangan remaja, atau justru upaya edukasi melalui media populer? Jawabannya mungkin berbeda bagi setiap orang. Namun satu hal yang pasti, kehadiran series ini berhasil membuka diskusi publik mengenai topik yang selama ini sering dihindari, sekaligus menunjukkan bahwa batas antara hiburan dan pendidikan kini semakin tipis di era media digital.
Sumber:
Dibintangi Junior Roberts dan Sandrinna Michelle, Series ‘Ejakulasi Dini’ Tuai Pro-Kontra suara.com

