QS. Hud ayat 12-13 menegaskan bahwa tugas seorang pemberi peringatan adalah menyampaikan kebenaran, sedangkan hasil dan hidayah sepenuhnya urusan Allah.
Latar Belakang
Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad bisa merasa sempit dada karena ejekan kaumnya, yang bertanya mengapa tidak diturunkan kepadanya harta atau datang malaikat bersamanya. Allah menegaskan bahwa beliau hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah adalah pemelihara segala sesuatu.
Poin Poin Utama Kajian :
- Kebenaran tidak diukur dari harta.
Segala yang kita inginkan tidak mudah untuk didapatkan, dan kebenaran tidak boleh dipandang hanya dari harta. Ada nabi yang menyampaikan syariatnya tetapi hanya sedikit orang yang mengikutinya. Jadi, sedikitnya pengikut tidak menjadikan kebenaran yang disampaikan berkurang. - Manusia tidak dibebani mengetahui masa depan.
Sebagai hamba Allah, kita tidak dibebani untuk mengetahui masa depan, baik untuk diri sendiri, teman, orang tua, maupun yang lainnya. - Yang diwajibkan adalah berusaha dengan baik.
Allah mewajibkan kita untuk berusaha dengan cara yang baik dan saleh (ikhtiar), serta mencari jalan yang terbaik. Contohnya dalam kehidupan suami istri: kita tidak bisa memastikan apakah pasangan akan berubah atau tidak, tetapi kita harus bisa menerima satu sama lain. Dengan begitu terwujud sakinah, mawaddah, wa rahmah, yang diciptakan dari usaha masing-masing. - Tantangan terhadap tuduhan bahwa Al-Qur’an buatan Nabi.
Sebagian orang menuduh bahwa Nabi Muhammad membuat-buat Al-Qur’an. Allah memerintahkan beliau untuk menjawab: datangkanlah sepuluh surah semisal Al-Qur’an yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja yang sanggup kamu undang selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Kajian ini mengajak kita untuk:
• Menyampaikan kebenaran tanpa terbebani hasil
• Tidak menilai kebenaran hanya dari harta atau jumlah pengikut
• Berusaha dengan baik dan menerima apa yang menjadi ketentuan Allah
• Meyakini bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah
( Sumber : Al-Qur’an, QS. Hud: 12-13.)

