Uncategorized

Ketika Ada yang Mengaku Nabi Setelah Muhammad saw., Apa Kata Al-Qur’an?

Magelang, 1 November 2026-Pengakuan seseorang sebagai nabi setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. bukanlah persoalan baru dalam sejarah Islam. Sejak masa Rasulullah saw. hingga perkembangan zaman, sejumlah orang pernah mengklaim dirinya sebagai nabi dan membawa ajaran yang berbeda. Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam pengajian rutin di Masjid Daarul Muttaqien Bandongan, melalui kajian kitab Himpunan Putusan Majelis Tarjih.

Dalam materi yang dibahas, dijelaskan mengenai hukum orang yang mengingkari kenabian seseorang setelah Nabi Muhammad saw. Pembahasan ini berkaitan erat dengan keyakinan bahwa Nabi Muhammad saw. merupakan nabi dan rasul terakhir. Dengan demikian, tidak ada lagi nabi yang diutus setelah beliau.

Landasan utama mengenai hal tersebut terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 40:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Artinya: “Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40).

Kata khataman nabiyyin dalam ayat tersebut menjelaskan kedudukan Nabi Muhammad saw. sebagai penutup para nabi. Artinya, rangkaian kenabian telah berakhir pada diri beliau. Keyakinan ini menjadi salah satu prinsip penting dalam akidah Islam.

Munculnya Pengakuan Nabi dalam Sejarah Islam

Fenomena orang yang mengaku sebagai nabi sebenarnya sudah muncul sejak masa Rasulullah saw. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi tantangan besar bagi umat Islam pada masa itu. Dalam kajian sejarah Islam yang ditulis Dale F. Eickelman melalui penelitian Musaylimah: An Anthropological Appraisal (1967), terdapat empat tokoh yang dikenal dalam catatan sejarah sebagai pengklaim kenabian pada masa tersebut.

Pertama, Al-Aswad Al-Ansi, yang memiliki nama Abhala bin Ka’ab. Ia berasal dari Yaman dan mengaku menerima wahyu serta mengklaim kedudukan sebagai nabi. Gerakannya sempat menguasai wilayah Yaman sebelum akhirnya berakhir menjelang wafatnya Rasulullah saw.

Kedua, Musailamah bin Habib, yang dikenal dengan sebutan Musailamah Al-Kadzdzab. Ia berasal dari Yamamah dan mengaku memiliki kedudukan kenabian. Bahkan, ia pernah mengirim surat kepada Rasulullah saw. dengan menyebut dirinya sebagai utusan Allah dan mengusulkan pembagian wilayah kekuasaan. Pengakuannya kemudian memicu perlawanan besar pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq.

Ketiga, Tulaihah bin Khuwailid Al-Asadi. Ia mengaku menerima wahyu dan mengklaim kenabian di tengah masyarakat Arab. Setelah mengalami kekalahan dalam Perang Buzakhah, ia melarikan diri. Dalam catatan sejarah Islam, Tulaihah kemudian kembali memeluk Islam dan ikut berjuang bersama kaum Muslimin.

Keempat, Sajah binti Al-Harits. Ia merupakan seorang perempuan yang juga mengklaim kenabian. Sajah berasal dari kalangan Bani Tamim dan pernah mengumpulkan sejumlah pengikut. Dalam perjalanan gerakannya, ia menjalin hubungan dengan kelompok Musailamah.

Keempat tokoh tersebut memperlihatkan bahwa klaim kenabian bukan hanya terjadi pada satu masa atau dilakukan oleh satu orang. Fenomena tersebut telah menjadi bagian dari dinamika sejarah umat Islam sejak masa awal perkembangannya.

Fenomena Pengakuan Nabi di Indonesia

Peristiwa serupa juga pernah terjadi di Indonesia. Sejumlah tokoh menjadi perhatian masyarakat karena pengakuan dan ajaran keagamaan yang mereka bawa. Salah satunya adalah Ahmad Musadeq, pendiri Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang kemudian berkaitan dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Ia pernah mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad saw. Pengakuan tersebut menjadi perhatian publik pada 2007 dan kembali ramai diperbincangkan ketika Gafatar muncul pada 2016. Pada 2017, Ahmad Musadeq dijatuhi hukuman lima tahun penjara.

Nama lainnya adalah Sensen Komara, seorang tokoh dari Garut, Jawa Barat, yang pada 2018 menjadi sorotan setelah mengaku menerima wahyu melalui mimpi. Dalam pemberitaan ABC Indonesia, ajarannya disebut mengubah kalimat syahadat dengan mengganti penyebutan Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul Allah dengan namanya sendiri. Kasusnya kemudian diproses secara hukum dan pengadilan memutuskan rehabilitasi kejiwaan.

Selain itu, terdapat Lia Aminuddin atau Lia Eden, yang dikenal melalui komunitas Salamullah. Namun, klaimnya perlu dibedakan dari pengakuan nabi secara langsung. Lia mengaku pernah bertemu dengan Malaikat Jibril dan menyebut dirinya sebagai reinkarnasi Bunda Maria. Ia juga membawa sejumlah ajaran keagamaan yang menggabungkan unsur Islam dan Kristen. Perkaranya pernah berujung pada vonis pidana pada 2006 dan 2009.

Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa klaim menerima wahyu, membawa ajaran baru, atau mengaku memiliki kedudukan khusus dalam agama perlu dipahami secara cermat. Tidak semua klaim tersebut memiliki bentuk yang sama, sehingga penting untuk melihat fakta sejarah dan sumber informasinya.

Memahami Kembali Makna Penutup Para Nabi

Melalui pembahasan dalam kitab Himpunan Putusan Majelis Tarjih, umat Islam diingatkan untuk memahami kedudukan Nabi Muhammad saw. sebagai penutup para nabi. Keyakinan tersebut tidak hanya bersandar pada pemahaman sejarah, tetapi juga ditegaskan secara langsung dalam Al-Qur’an. QS. Al-Ahzab ayat 40 menjadi dasar bahwa tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, pengakuan kenabian setelah beliau bertentangan dengan prinsip akidah Islam mengenai berakhirnya kenabian.

Materi ini juga mengajak umat Islam untuk tidak mudah menerima setiap pengakuan keagamaan tanpa memeriksa kebenarannya. Pemahaman terhadap Al-Qur’an, hadis, dan tuntunan agama menjadi penting agar umat tidak mudah terpengaruh oleh klaim yang tidak memiliki landasan yang benar. Dengan memahami sejarah munculnya orang-orang yang mengaku sebagai nabi, umat Islam diharapkan semakin mengenal kedudukan Rasulullah saw. sekaligus menjaga keyakinan terhadap ajaran Islam yang telah disampaikan beliau.

Related posts
Uncategorized

Tidur: Tanda Kebesaran Allah, Nikmat, dan Pengingat akan Kematian

Tidur dan Mendengar sebagai Tanda Kebesaran Allah SWTTidur dan kemampuan mendengar merupakan dua hal…
Read more
Uncategorized

Moralitas Pasar Syariah

Pada hari Sabtu pagi, 31 Oktober 2026, telah diselenggarakan Pengajian #230 yang mengusung tema…
Read more
Uncategorized

Membangun Ekonomi Berkah Melalui Moralitas Pasar Syariah

Kegiatan kajian Islam yang sarat akan ilmu dan pencerahan kembali diselenggarakan di Aula Gedung…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter

Daftarkan diri anda untuk menjadi member dan dapatkan pemberitahuan saat ada informasi terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *