Pengajian Ahad Pagi Bahas Keutamaan Menuntut Ilmu dan Sejarah Muhammadiyah
Ahad, 1 November 2026 – Pengajian Ahad pagi kembali digelar dengan dua pokok bahasan, yaitu keutamaan menuntut ilmu dan sejarah Kemuhammadiyahan.
Penceramah menyampaikan bahwa orang yang menuntut ilmu akan mendapatkan empat hal. Yang pertama adalah ketenangan dan kemudahan, dengan ciri antara lain tidur yang nyenyak.
Memasuki materi Kemuhammadiyahan, penceramah mengisahkan sosok K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 1868 dengan nama Muhammad Darwisy, beliau hidup pada masa umat Islam mengalami kemunduran. Banyak umat saat itu menganggap Al-Qur’an hanya sebagai mantra atau bacaan rutin tanpa dipahami. K.H. Ahmad Dahlan berpikir bahwa Al-Qur’an harus diamalkan.
Kondisi umat yang memprihatinkan, mulai dari kebodohan, kemiskinan, hingga praktik keagamaan yang bercampur tradisi, mendorong beliau bergerak. Pada 1912, Muhammadiyah resmi berdiri di Yogyakarta dengan semangat pemurnian ajaran Islam dan pembaruan pendidikan. Pemerintah kolonial Belanda mengakui Muhammadiyah sebagai badan hukum pada 1914.
Cara K.H. Ahmad Dahlan mendidik umat adalah dengan amal nyata. Beliau mendirikan sekolah yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum, serta rumah sakit. Pelayanan kesehatan ini dikenal sebagai PKU (Penolong Kesengsaraan Umum), yang berakar dari pengamalan Surat Al-Ma’un tentang kepedulian pada kaum lemah. Gerakan ini kemudian berkembang dengan lahirnya Aisyiyah (1917) sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah. Atas jasanya, K.H. Ahmad Dahlan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1961.

