Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat baru saja menetapkan tarif impor sebesar 32 persen terhadap barang asal Indonesia. Tarif ini adalah tarif timbal balik atau disebut resiprokal, yang mana Indonesia turut mengenakan tarif pada produk-produk yang berasal dari AS yang masuk ke Indonesia. Oleh karena kebijakan itu, menyebabkan Indonesia menjadi bagian dari ke delapan negara dengan tarif impor tinggi.
Tentunya kebijakan yang dilakukan oleh Trump ini membawa tekanan yang besar pada perekonomian di Indonesia. Salah satunya menurunkan daya saing ekspor Indonesia pada pasar AS yang diakibatkan oleh lonjakan harga barang yang jauh lebih mahal. Ini turut berpotensi dalam neraca perdagangan nasional yang terganggu akibat permintaan terhadap produk Indonesia yang diperkirakan melemah pada sektor padat karya, seperti alas kaki, tekstil, dan furniture.
Hermanto Siregae selaku ekonom IPB University menyatakan kebijakan tarif oleh Trump dapat berdampak buruk bagi Indonesia. Hal tersebut mungkin dapat terjadi jika pemerintah kita gagal dalam negosiasi dan tidak melakukan langkah mitigasi yang efektif. Menurutnya penurunan nilai ekspor akan mencapai 20 hingga 30 persen. Dalam diskusinya di acara ‘Dinamika dan Perkembangan Dunia Terkini: Geopolitik, Keamanan dan Ekonomi Global’ Ia mengatakan bahwa kenaikan inflasi mencapai 1 hingga 2 persen dan kontraksi GDP sebesar 0,5 hingga 1 persen. Hermanto berharap pemerintah perlu menerapkan kebijakan jangka pendek, menegah, dan panjang sebagai respons dari kebijakan tarif Trump.
Dampak lain yang tidak langsung terlihat yaitu membanjirnya barang-barang dari negara lain ke Indonesia. Saat produk dari Vietnam dan China sulit untuk masuk ke AS, maka mereka akan mencari pasar alternatif. Salah satunya adalah negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Selanjutnya alternatif pasar ini akan membentuk persaingan di pasar dalam negeri yang semakin ketat, terutama pada pelaku usaha kecil.
Jika hal ini terus berlangsung, maka pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan melambat. Sesuai dengan prediksi yang dilakukan oleh Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia turun dari 5,1% ke angka 4,5% pada akhir 2025 nanti. Artinya akan lebih sedikt tersedianya proyek, menyempitnya lowongan pekerjaan, dan lambatnya perputaran uang di masyarakat.
Presiden Prabowo Subianto menginstrusikan Kabinet Merah Putih melakukan langkah yang strategis, perbaikan structural, dan kebijakan deregulasi. Berupa penyederhanaan regulasi dan pengahapusan regulasi yang menghambat, terutama pada hal yang berkaitan dengan Non-Tariff Barrier. Pemerintahan pun turut menyadari akan ketegangan dagang global yang tengah terjadi, dan meresponnya dengan upaya diplomasi dagang dan kerja sama dengan negara-negara lain yaitu Uni Emirat Arab dan India sebagai perluasan pasar ekspor.
Kementrian Perdagangan dan Kementrian Luar Negeri menempuh jalur diplomatic pada WTO dan memperkuat negosiasi bilateral melalui ASEAN-US Dialogue. Masyarakat pun dapat memulai dengan saling mendukung pada produk-produk local yang sama saja dengan keikut sertaan membantu dan menjaga kelangsungan usaha, lapangan kerja, dan roda ekonomi Indonesia. Pemrintah mengharapkan solidaritas dan gotong royong masyarakat sebagai kekuatan besar yang dimiliki untuk menghadapi ketidakpastian global saat ini.
Sumber: Kenapa Indonesia Terkena Tarif Impor Donald Trump? www.tempo.com
Dampak Tarif Trump bagi Ekonomi Indonesia Menurut Ekonom IPB University: Ekspor Turun, Inflasi Naik www.tempo.com
Menyikapi Perang Tarif Trump www.news.detik.com

