Pagar laut berbahan dasar bambu berdiri sepanjang 30,16 kilometer yang terbentang di perairan laut Tangerang. Namun, anehnya pagar laut tersebut memiliki sertifikat Hak Guna Bangunan yang terdaftar di ATR/BPN. Lalu siapakah pemilik atau dalang dibalik berdirinya pagar laut itu?
Berdasarkan pernyataan dari Tempo, pagar laut tersebut dimiliki oleh perusahaan bernama PT Intang Agung Makmur dengan 234 bidang. Tak hanya satu perusahaan tersebut saja, namun terdapat beberapa nama perusahaan lain. Seperti PT Cahya Inti Santosa sebanyak 20 bidang, kemudian sertifikat perorangan sebanyak 9 bidang dan Surat Hak Milik atau SHM sebanyak 17 bidang. Maka terdapat 263 bidang yang memiliki sertifikat HGB pada pagar laut tersebut.
Kasus berdirinya pagar laut ini kerap dihubung-hubungkan dengan dugaan keterkaitan proyek Pantai Indah Kapuk (PIK) 2. Dugaan ini muncul karena fakta bahwa panjang pagar laut sebesar 30,16 kilometer ini hanya berjarak sekitar 500 meter saja dari bibir pantai wilayah proyek PIK 2.
Namun dugaan tersebut dipatahkan langsung oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto. Dikutip dari tirto.id bahwa pagar laut tersebut tidak memiliki kaitan denga proyek PIK 2. Menurutnya proyek PIK 2 masuk dalam Proyek Strategis Nasional sebatas pengembangan kawasan ekowisata Tropical Coastland.
Walaupun awalnya upaya pembongkaran pagar laut ini dinilai cukup alot, setelah terjunnya secara langsung Presiden RI upaya pembongkaran dapat dilakukan secara bertahap. Dilansir pada siaran langsung Kompas TV pada 27 Januari 2025 pembongkaran pagar laut tetap berlanjut di tengah hari libur. Pembongkaran itu sendiri sudah memasuki hari ke enam oleh personel gabungan dari Kemetrian Kelautan dan Perikanan/ KPP, TNI Angkatan Laut (AL), juga Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud).
Saat ini pembongkaran pagar laut mencapai 18,7 kilometer pada 28 Januari 2024 menurut Anatara, dan tetap akan dituntaskan pencabutannya. Terdapat beberapa factor kendala pada proses pencabutan atau pembongkaran pagar laut ini, yaitu factor cuaca yang kurang baik membuat kapal kesulitan saat membongkar pagar.

