Uncategorized

Makan Seblak Boleh, Tapi Jangan Jadi Kebiasaan

Raw dry crackers sold at local markets

Seblak telah menjadi salah satu kuliner favorit anak muda di berbagai daerah Indonesia. Hidangan dengan ciri khas pedas, gurih, dan penuh topping ini memang mampu menggugah selera. Namun, jika dikonsumsi secara berlebihan, seblak bisa memberikan dampak yang tidak baik bagi kesehatan. Hal ini seharusnya menjadi perhatian serius, terutama karena tren makanan pedas seringkali dipengaruhi oleh budaya “challenge” di media sosial yang membuat orang cenderung makan dalam porsi besar atau tingkat kepedasan ekstrem.

Seblak umumnya berbahan dasar kerupuk mentah yang direbus hingga lembek, kemudian dimasak bersama bumbu cabai, kencur, dan bawang, ditambah topping seperti sosis, bakso, mie, hingga ceker ayam. Kandungan cabai yang berlebihan dapat memicu masalah lambung, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat maag atau asam lambung. Efek jangka pendeknya bisa berupa perut perih, mual, atau diare. Bahkan, konsumsi terlalu sering dapat meningkatkan risiko penyakit pencernaan yang lebih serius.

Selain faktor kepedasan, seblak juga biasanya dimasak dengan banyak minyak dan garam. Jika dikonsumsi berlebihan, hal ini bisa memicu risiko lain seperti hipertensi dan kolesterol. Kandungan MSG dan bahan olahan instan yang sering digunakan juga menambah beban bagi tubuh, terutama jika dijadikan makanan harian. Kebiasaan ini tentu bertolak belakang dengan pola makan sehat yang dianjurkan.

Opini saya, seblak seharusnya tetap ditempatkan sebagai makanan selingan atau sesekali, bukan menjadi konsumsi utama. Kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, perlu ditingkatkan agar bisa menikmati seblak dengan cara lebih bijak. Misalnya, memilih topping yang lebih sehat seperti sayuran atau mengurangi penggunaan cabai dan bumbu instan. Selain itu, tren “makan pedas ekstrem” sebaiknya mulai dikritisi karena cenderung tidak mendidik, justru mendorong orang pada kebiasaan yang membahayakan kesehatan.

Pada akhirnya, makanan tradisional seperti seblak adalah bagian dari kekayaan kuliner kita yang patut diapresiasi. Namun, mengonsumsinya tetap perlu dikendalikan. Menikmati seblak secara wajar akan membuat kita tetap bisa merasakan cita rasa khasnya tanpa harus mengorbankan kesehatan. Jadi, bukan seblaknya yang salah, tetapi pola konsumsi berlebihanlah yang harus dikoreksi.

Related posts
Uncategorized

Edukasi Anti-Hoaks: Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNIMMA menggelar penyuluhan literasi digital bertema ruang digital sehat di Dusun Musuk bersama Ibu-Ibu PKK dan Komunitas Remaja CFD

MAGELANG – Guna menekan angka penyebaran informasi palsu di tingkat desa, mahasiswa Program Studi…
Read more
Uncategorized

Gandeng Ibu-Ibu PKK dan Siswa SMK, Sosialisasi Bijak Bermedia Sosial Digelar di Bandongan

BANDONGAN — Di pertengahan tahun 2026, penggunaan internet di Indonesia semakin tinggi. Data…
Read more
Uncategorized

TIM MulaiDariJari berkolaborasi dengan Mafindo Magelang Raya Edukasi Pelajar dan Ibu-Ibu PKK Tentang Empati Digital

Magelang– Tim MulaiDariJari bekerja sama dengan Mafindo Magelang Raya menyelenggarakan sosialisasi…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter

Daftarkan diri anda untuk menjadi member dan dapatkan pemberitahuan saat ada informasi terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *