Festival Literasi Temanggung kembali digaung setelah jeda beberapa tahun. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Temanggung menggelar festival ini selama lima hari, sejak 8 hingga 12 Oktober 2025 di halaman kantor Dinpusip. Kegiatan ini membawa tema besar “Buku Gerakkan Kreasi, Literasi Nyalakan Generasi”, sebuah ungkapan harapan bahwa buku dan literasi tak hanya menjadi sarana membaca saja, tetapi memicu kreativitas dan membangkitkan generasi masa depan.
Festival ini ditandai dengan pembukaan resmi oleh Bupati Agus Setiyawan, disaksikan oleh anggota DPRD, Kepala Dinpusip Provinsi Jawa Tengah, kepala sekolah, serta kepala desa dari berbagai wilayah. Berbagai elemen masyarakat ikut ambil bagian ‒ mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), perpustakaan desa, hingga komunitas literasi lokal. Ada 49 penampil dari sekolah yang membagikan karya literasi berupa pertunjukan, dan terdapat sekitar 40 stan yang dipenuhi oleh sekolah dan perpustakaan desa yang punya misi literasi.
Tujuan utama festival adalah memperkenalkan fungsi dan peran perpustakaan kepada masyarakat secara lebih luas. Selama ini, perpustakaan sering kali hanya dianggap tempat meminjam buku. Festival ingin menunjukkan bahwa perpustakaan adalah pusat kreativitas, pusat komunitas, dan pusat inspirasi ‒ bukan hanya ruang baca statis. Dengan adanya stan komunitas, pameran buku dari penerbit, serta pertunjukan karya pelajar, festival ini menjadi sarana edukasi yang menyenangkan sekaligus mendorong minat baca bagi banyak kalangan.
Salah satu hal yang menarik adalah bahwa Festival Literasi Temanggung ini terakhir digelar pada 2019. Sejak itu, tidak banyak kegiatan literasi besar berskala serupa diadakan di Temanggung. Maka festival tahun ini dianggap sebagai momentum untuk “menggerakkan kembali” semangat literasi, terutama di kalangan generasi muda yang mulai kalah dalam persaingan perhatian oleh gadget dan media digital yang cepat.
Warga berharap agar festival seperti ini tidak hanya menjadi event tahunan sekali lalu reda. Mereka menginginkan agar Dinpusip dan pemangku kepentingan terkait menjaga keberlanjutan festival, memperkuat dukungan sumber daya (seperti buku, fasilitas, dan tenaga pustakawan), serta merancang program literasi yang menjangkau desa-desa terpencil. Ada harapan pula program literasi digital dikembangkan, agar bukan hanya buku fisik, tetapi konten digital juga turut dimanfaatkan.
Festival Literasi Temanggung menunjukkan bahwa literasi bisa kembali menjadi jantung aktivitas budaya masyarakat. Ketika buku, panggung karya pelajar, dan komunitas berkumpul, mereka tidak hanya membaca, tapi mencipta, berinteraksi, dan menyalakan kembali api kecintaan terhadap literasi yang sempat meredup.
Sumber:
Festival Literasi Temanggung: Upaya Gerakkan Kreasi, Nyalakan Generasi | Pemerintah Kabupaten Temanggung
Festival literasi promosikan eksistensi perpustakaan | ANTARA News Jawa Tengah
Festival Literasi Kembali Digelar di Temanggung dengan Tema ‘Buku Gerakkan Kreasi, Literasi Nyalakan Generasi | Info Temanggung

