JenderNews

Menghapus Stigma, Menguatkan Peran: KB Laki-Laki dalam Visi Sosial KDM

Program Keluarga Berencana (KB) bukan semata tentang pengaturan jumlah anak, melainkan juga tentang pembagian peran yang adil antara laki-laki dan perempuan dalam membangun keluarga yang sehat dan berkualitas. Namun, selama ini KB sering kali diasosiasikan dengan tanggung jawab perempuan saja, baik dalam hal penggunaan alat kontrasepsi maupun pengambilan keputusan. Padahal, dalam tatanan keluarga modern yang menjunjung kesetaraan gender, sudah seharusnya laki-laki juga dilibatkan secara aktif. Kesadaran ini menjadi penting untuk terus digaungkan agar tidak terjadi ketimpangan peran yang justru membebani satu pihak.

Gagasan tentang keadilan peran ini sejalan dengan nilai-nilai yang diusung Kang Dedi Mulyadi (KDM), tokoh yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat dan sangat memperhatikan isu-isu sosial, termasuk peran keluarga dalam pembangunan. Dalam berbagai program dan narasi publiknya, KDM kerap mengangkat pentingnya kehadiran ayah dalam kehidupan anak, serta pentingnya kerja sama antara suami dan istri dalam menjaga keseimbangan rumah tangga. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan beliau, keluarga bukanlah ranah dominasi satu gender, melainkan tempat tumbuhnya kemitraan yang setara.

KDM juga dikenal sebagai sosok yang mampu merajut nilai-nilai tradisi dengan pandangan progresif. Ia sering menampilkan figur laki-laki yang lembut, peduli, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda. Dalam konteks KB, ini bisa dimaknai sebagai ajakan moral kepada kaum laki-laki untuk turut serta mengambil bagian dalam perencanaan keluarga, tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pengambil keputusan bersama dalam hal reproduksi. Pendekatan ini tidak bersifat menggurui, melainkan menyentuh dari sisi nilai budaya dan kearifan lokal, sehingga lebih mudah diterima masyarakat.

Dengan menempatkan kesetaraan gender sebagai dasar berpikir, partisipasi laki-laki dalam KB akan lebih mudah terbangun. Melalui cara-cara yang khas, humanis, dan membumi. KDM telah memberikan contoh bahwa perubahan sosial tidak harus melalui jargon besar, tetapi cukup dengan menghidupkan kembali nilai-nilai keadilan dan kebersamaan dalam keluarga. Jika nilai ini terus ditanamkan, maka KB tidak lagi menjadi beban perempuan semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama yang dijalani dengan kesadaran dan cinta kasih.

Related posts
News

Konser Denny Caknan di Lapangan Maron Temanggung: Semangat Warisan Rasa di Malam HUT ke-191

Konser Denny Caknan di Lapangan Maron, Temanggung, menjadi salah satu puncak perayaan Hari Jadi…
Read more
BusinessFenomenaNews

Drama Besar di DC Berbah: Ratusan Ribu Paket Nyangkut, Konsumen Mengeluh Kerugian dan Kekecewaan Meluas!

Keterlambatan pengiriman paket di Distribution Center (DC) Berbah, Sleman yang terjadi pada bulan…
Read more
FenomenaJenderLifestyle

Festival Gamelan Solo 2025: Perempuan Sinden Menghidupkan Warisan Budaya dengan Suara Magis!

Festival Gamelan dan Sinden di Solo 2025 menjadi sorotan utama dalam upaya pelestarian budaya…
Read more
Newsletter
Become a Trendsetter

Daftarkan diri anda untuk menjadi member dan dapatkan pemberitahuan saat ada informasi terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *